Bojonegoro (beritajatim.com) – Paparan sinar matahari langsung pada siang di Kabupaten Bojonegoro terasa sangat menyengat kulit. Sesuai pantauan suhu pada aplikasi AccuWeather di smartphone pukul 14.30 WIB suhu udara menunjukkan 43 derajat celsius, Rabu (16/10/2024).
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bojonegoro Dandi Suprayitno mengatakan, suhu panas di kota minyak dan gas bumi (migas) selama beberapa tahun terakhir ini memang mengalami peningkatan. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi.
Suhu panas yang tinggi belakang, kata alumni STPDN angkatan 05 itu karena ada fenomena ekuinoks atau kedudukan matahari tepat berada di garis khatulistiwa. “Paling utama (suhu panas terjadi) karena ada fenomena matahari tepat di garis khatulistiwa,” ujarnya.
Suhu panas di Kabupaten Bojonegoro, menurutnya, dibanding tahun-tahun sebelumnya berkisar antara 31 sampai dengan 36 derajat celsius. Namun, beberapa hari dalam bulan ini, mengalami peningkatan hingga 38 sampai 40 derajat celsius.
Peningkatan suhu itu, selain adanya fenomena ekuinoks, juga dipengaruhi faktor lingkungan. Perkembangan lingkungan di wilayah paling barat di Jawa Timur itu kondisi hutannya gundul dan vegetasi semakin berkurang.
“Fenomena alam yang utama, namun perkembangan lingkungan Bojonegoro juga ada yang perlu menjadi perhatian, selain wilayah hutan yang gundul juga semakin berkurangnya vegetasi,” jelasnya.
Pengurangan vegetasi dan hutan yang gundul juga mempengaruhi kualitas udara. Sesuai pantauan di website IQAir, Indeks kualitas udara (AQI) dan polusi udara PM2.5 di Bojonegoro kondisi sedang. Konsentrasi Particulate Matter PM2.5 di Bojonegoro saat ini 3.4 kali nilai panduan kualitas udara tahunan WHO.
“Pemerintah harus memiliki perhatian serius terhadap persoalan polusi udara yang disebabkan oleh materi partikel polutan, seperti PM 2,5 yang sangat berbahaya bagi kesehatan,” ujar pegiat Lingkar Studi Ekologi dan Energi Terbarukan (SUKET), Rarandra.
Penurunan kualitas udara, kata alumni Fakultas Pertanian salah satu kampus ternama di Yogyakarta ini, diantaranya karena kawasan tutupan hijau semakin berkurang, penebangan pohon makin marak, deforestasi atau alih fungsi kawasan hutan, hingga pemakaian energi bahan bakar fosil semakin meningkat
“Selain menyebabkan polusi udara, yang berpengaruh pada kesehatan, juga menimbulkan bencana ekologi, seperti perubahan iklim, banjir, tanah longsor, kekeringan dan ketersediaan air tanah yang terus menurun drastis,” pungkasnya. [lus]






