Madiun (beritajatim.com) – Target partisipasi pemilih di Jawa Timur diharapkan mencapai 83 persen pada Pilkada 2024. Namun, menurut Nur Salam, Komisioner KPU Jawa Timur Divisi Sosialisasi Pendidikan Pemilih dan Partisipasi Masyarakat, hal ini merupakan tantangan yang cukup berat.
Hal ini disebabkan oleh tren bahwa partisipasi dalam Pilkada umumnya lebih rendah dibandingkan dengan Pemilu. Nur Salam menjelaskan bahwa partisipasi pemilih tidak hanya diukur dari jumlah masyarakat yang hadir di tempat pemungutan suara (TPS).
“Partisipasi pemilih harus dilihat secara menyeluruh, mulai dari tahap awal peluncuran hingga pasca penetapan hasil. Semua tahapan tersebut adalah bagian dari partisipasi masyarakat, bukan hanya saat mencoblos di TPS,” ungkapnya usai menjadi narasumber dalam Sarasehan Bersama Awak Media Polda Jatim Rayon 5 di Sun Hotel Kota Madiun, ditulis Sabtu (5/10/2024)..
Salam menambahkan bahwa KPU Jatim akan merilis indeks partisipasi masyarakat yang melibatkan berbagai instrumen, termasuk peran media dan pihak keamanan seperti Polda. “Ini adalah bagian penting dalam mengukur partisipasi masyarakat secara komprehensif,” lanjutnya.
Selain itu, lima wilayah di Jawa Timur yang menghadapi fenomena “kotak kosong” dalam Pilkada juga menjadi perhatian khusus. Nur Salam menyoroti bahwa kotak kosong bisa mempengaruhi psikologi pemilih, yang pada akhirnya berdampak pada angka partisipasi.
“Ini menjadi tantangan bagi KPU di lima kabupaten/kota dan KPU Provinsi Jatim, bagaimana menjaga angka partisipasi meskipun ada calon tunggal,” katanya.
Menurut Nur Salam, keberhasilan partisipasi pemilih tidak hanya ditentukan oleh KPU atau Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK), tetapi juga oleh pasangan calon yang berperan penting dalam memobilisasi masyarakat untuk hadir di TPS.
“Pemilu lebih tinggi partisipasinya dibanding Pilkada karena mobilisasi massanya besar. Di Pemilu ada partai, Pilpres, dan caleg yang jumlahnya banyak, sehingga turut berpengaruh terhadap partisipasi masyarakat,” jelasnya.
Sebagai contoh, Nur Salam mengingatkan tingginya partisipasi pemilih di Pilkada DKI Jakarta karena adanya isu panas yang membangkitkan minat masyarakat. “Momentum dan isu yang berkembang sangat mempengaruhi animo masyarakat,” katanya.
Terakhir, Nur Salam menegaskan bahwa KPU Jatim akan bekerja keras untuk mencapai target partisipasi, namun hasil akhirnya bukanlah sekadar soal terpenuhi atau tidaknya target tersebut.
“Yang penting adalah kerja keras dari personil KPU dan bagaimana mereka menjaga partisipasi masyarakat selama seluruh tahapan berlangsung,” tutupnya. [fiq/beq]






