Jember (beritajatim.com) – Sebanyak 157.287 jiwa warga 12 desa yang berada di pesisir Kabupaten Jember, Jawa Timur, dipersiapkan menghadapi megathrust. Kewaspadaan terhadap megathrust tak bisa diserahkan hanya kepada pemerintah daerah.
Dua belas desa tersebut adalah Desa Andongrejo, Curahnongko (Kecamatan Tempurejo), Sabrang, Sumberrejo (Ambulu), Lojejer (Wuluhan), Puger Wetan, Puger Kulon, Mojosari (Puger), Kepanjen, Mayangan (Gumukmas), Paseban (Kencong).
Megathrust adalah jenis patahan besar yang terletak di zona subduksi, tempat lempeng tektonik lebih padat bergerak ke bawah lempeng yang lebih ringan. Pergerakan ini menciptakan tekanan yang dapat menyebabkan gempa bumi dengan magnitudo tinggi ketika tekanan ini dilepaskan secara tiba-tiba.
Penjabat Sementara Bupati Jember Imam Hidayat mengatakan, semua unsur sudah siap menghadapi megathrust. “Kami ingin unsur-unsur yang sudah siap ini bisa bergerak tepat sasaran ketika terjadi bencana,” katanya, usai acara Focus Group Discussion (FGD) Siaga Bencana Megathrust yang diikuti 450 orang perwakilan pemangku kepentingan dan kebijakan, di Aula PB Sudirman, Pemkab Jember, Rabu (2/10/2024) pagi.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah Jember sedang menyusun lini masa dan standar prosedur operasi kegiatan. “Kita harus terbiasa dengan kegiatan gladimakoter, seperti simulasi, yang mungkin tak hanya sampai di tingkat kabupaten tapi juga sampai tingkat desa,” kata Imam.
Sejumlah saluran informasi sangat membantu antisipasi megathrust. “Masyarakat kita walau pegang HP, tidak semua membuka HP. Tapi melalui tempat-tempat ibadah dan tempat-tempat strategis, bisa diberikan informasi itu juga bagus. Yang jelas bagaimana ke depan kita lebih konkret lagi,” kata Imam.
Peta evakuasi juga menjadi penting. “Kita ingin masyarakat terbiasa dan teredukasi, karena kita hidup khususnya di wilayah pesisir selatan Jember. Kalau sudah terbiasa, jika terjadi apa-apa, mereka tahu harus berbuat apa-apa. Kita tahu 98 persen penyelamatan justru dari diri kita sendiri, baru yang 1,7 persen dari tim,” kata Imam.
Kepala BPBD Jember Widodo Yulianto mengatakan, kendati ada 12 desa yang rawan megathrust, namun kewaspadaan sesungguhnya berlaku untuk seluruh Jember. “Efek (megathrust) bisa jadi di luar 12 desa itu. Ini yang jadi perhatian kita bersama, dari semua stakeholder. Kita perlu kebersamaan, karena tanggung jawab bencana bukan hanya pada BPBD,” jelasnya.
Widodo menegaskan perlunya penguatan desa tangguh bencana (destana). “Kita harapkan teman-teman di desa ada kemandirian dalam menangani bencana. Jadi ada penguatan kerja sama, ada koordinasi antara destana dengan pemerintah desa. Ini perlu kita bangun bersama-sama,” katanya.
FGD yang dilangsungkan hari ini untuk menyamakan persepsi. Nantinya juga akan ada simulasi yang melibatkan masyarakat dan pemerintah desa. “Juga ada pemasangan alat (informasi) dengan menggandeng tempat ibadah, dan BMKG (Badan Meteorologi Klimatologi Geofisika) sudah memasang alat pengukur ketingguan gelombang (laut),” kata Widodo.
Kepala Stasiun Geofisika Malang Ma’muri memandang perlunya edukasi terhadap masyarakat, terutama oleh media massa. “Tidak sedikit masyarakat yang belum sadar dan menganggap itu kabar angin saja, karena memang terkait tsunami dan gempa bumi, waktu untuk merasakan yang kuat itu cukup lama bahkan sampai ganti generasi, sehingga informasi itu putus,” katanya.
“Faktanya megathrust memang ada. Tinggal salah satu upaya yang dilakukan adalah kita menyamakan persepsi. Setelah persepsi kita sama, kita melangkah ke depan untuk mitigasinya. Kita tidak mungkin menyatukan semua kalau persepsinya menurut masing-masing,” kata Ma’muri.
Menurut Ma’muri, ada zona subduksi di selatan Jawa yang berpotensi gempa. “Kapan, kita tidak tahu,” katanya. Namun mitigasi megathrust menjadi pintu masuk untuk mitigasi bencana lain, seperti banjir, longsor, angin kencang, dan lain-lain. [wir]






