Blitar (beritajatim.com) – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Srengat Kabupaten Blitar membantah perihal pihaknya lamban menangani pasien korban penganiayaan yang diduga dilakukan oleh guru Madrasah Tsanawiyah (MTs).
Pihak RSUD Srengat menyebut telah melakukan penanganan medis sesuai prosedur. Proses penanganan medis untuk korban penganiayaan itu juga terbilang sudah cukup cepat. Hal ini tentu membantah tudingan soal penanganan medis RSUD Srengat yang lambat hingga menyebabkan kematian pada korban penganiayaan.
“Kami sudah menjalankan penanganan medis sesuai dengan prosedur. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin hingga kami memutuskan untuk merujuk pasien ke RSUD Kediri karena kami memang tidak memiliki spesialis saraf,” ucap Muchammad Baehaki, Direktur RSUD Srengat Kabupaten Blitar, Sabtu (28/9/2024).
Sebelumnya, RSUD Srengat Kabupaten Blitar menerima pasien yang diduga menjadi korban penganiayaan oleh guru MTsnya sendiri pada Minggu (15/9/2024) lalu. Saat datang kondisi pasien sudah dalam keadaan penurunan kesadaran dan sarafnya tidak stabil.
Saat datang, korban diantar pihak sekolah dan perwakilan keluarga. Saat itu, pihak keluarga menyebut bahwa korban baru saja terbentur balok kayu yang ada pakunya. Namun pihak sekolah dan keluarga menjelaskan bahwa paku yang menancap di kepala korban telah dicabut sendiri.
Melihat kondisi luka di kepala korban, tim medis RSUD Srengat kemudian melakukan pemeriksaan CT Scan. Hasil CT Scan memperlihatkan bahwa korban mengalami pendarahan di bagian otak.
“Korban itu datang sekitar pukul 06.58 WIB kemudian langsung kami lakukan penanganan medis karena kondisi korban muntah-muntah dan stabil baru kemudian kami lakukan CT Scan dan hasilnya keluar pukul 08.50 WIB,” bebernya.
Usai dilakukan CT Scan kondisi korban tak kunjung membaik. Dengan hasil CT Scan itu korban diharuskan oleh tim medis bedah umum RSUD Srengat untuk dilakukan penanganan spesialis bedah saraf.
“Sebelum dilakukan rujukan, memang kita harus menstabilkan kondisi korban baru kami lakukan perujukan ke RSUD Kabupaten Kediri sekitar pukul 12.30 WIB,” tegasnya.
Penanganan yang dilakukan oleh RSUD Srengat ini dalam rangka menstabilkan kondisi pasien. Hal itu dilakukan agar saat di perjalanan menuju rumah sakit rujukan pasien benar-benar aman.
“Kami antar pasien ke rumah sakit rujukan di sana korban penganiayaan itu baru mendapatkan penanganan bedah saraf karena memang kami belum memiliki bedah saraf,” tutupnya.
Korban penganiayaan oleh guru MTsnya sendiri itu memang menjalani perawatan lanjutan di RSUD Kabupaten Kediri. Korban yang masih berusia 14 tahun itu pun menghembuskan nafas terakhir di rumah sakit milik Pemerintah Kabupaten Kediri. (owi/ian)






