Bondowoso (beritajatim.com) – Sejumlah wilayah di Kabupaten Bondowoso mulai diguyur hujan sejak tiga hari terakhir, mengancam produksi tembakau yang belum selesai dipanen.
Menurut Ahmad Yasid, Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Kabupaten Bondowoso, sekitar 40 persen areal perkebunan tembakau di Bondowoso belum dipanen, termasuk tembakau rajangan dan kasturi yang belum dijemur.
“Anomali cuaca ini sudah diprediksi oleh banyak ahli BMKG dan pabrikan. Meski demikian, banyak petani yang belum memasuki fase pasca panen,” ujar Yasid kepada beritajatim.com, Kamis (26/9/2024).
Ia menjelaskan bahwa baru sekitar 60 persen tanaman tembakau yang telah dipanen, sementara sisanya masih belum tersentuh proses pasca panen. Yasid menyarankan para petani untuk segera beradaptasi dengan perubahan cuaca guna mengurangi risiko gagal panen.
Beberapa saran dari APTI Bondowoso antara lain memetik daun tua, menggunakan penjemuran di atas para-para, menempatkan alas terpal di atas tanah, dan menipiskan ketebalan jemur (iliran). “Penjemuran di atas para-para dari kayu atau bambu bisa lebih cepat menurunkan kadar air tembakau,” jelas Yasid.
Ia juga menambahkan bahwa penggunaan terpal di atas tanah bisa mencegah kelembaban akibat air hujan yang terserap tanah. Menipiskan ketebalan jemur tembakau rajangan juga dianjurkan untuk mempercepat proses penjemuran, mengingat cuaca yang semakin tidak menentu.
Meskipun metode ini akan meningkatkan biaya produksi, seperti kebutuhan akan widek (tempat penjemuran) dan terpal, hal tersebut dinilai penting untuk menjaga kualitas tembakau tetap tinggi.
“Kalau kualitas tembakau turun, harga jualnya juga akan turun. Ini tentunya tidak diinginkan oleh petani,” pungkasnya. [awi/beq]






