Magetan (beritajatim.com) – Musim kemarau yang berkepanjangan di wilayah Magetan telah memaksa sejumlah emak-emak di Desa Pendem, Kecamatan Ngariboyo, untuk beralih profesi.
Jika sebelumnya mereka bekerja sebagai buruh tani, kini mereka menjadi penyelam pasir demi tetap mendapatkan penghasilan. Air sungai yang surut memudahkan mereka untuk mengumpulkan pasir dari dasar sungai sebagai alternatif sumber pendapatan.
Pada Kamis, 19 September 2024 pagi, emak-emak di desa tersebut mulai menyelam untuk mencari pasir di sungai. Dengan menggunakan alat sederhana seperti cangkul, mereka mengangkat pasir dari dasar sungai dan menaruhnya ke dalam tenggok, sejenis wadah yang mereka bawa. Meski harus menahan dingin, mereka tetap bekerja demi menghidupi keluarga.
Sebelum kemarau melanda, emak-emak ini bekerja sebagai buruh tani. Namun, dengan kondisi sawah yang mengering dan ladang yang tidak bisa digarap, pekerjaan mereka tidak lagi dibutuhkan. Akibatnya, banyak dari mereka terpaksa beralih profesi menjadi penyelam pasir. Sawah-sawah yang tadinya menjadi sumber penghidupan dibiarkan kering dan terbengkalai selama musim kemarau ini.
Dari pekerjaan menyelam mencari pasir, setiap emak-emak bisa mendapatkan penghasilan sekitar Rp50.000 per hari, dengan jam kerja mulai pukul 07.30 hingga 09.30 WIB. Selain pasir, mereka juga mengumpulkan batu yang kemudian dipecah dan dijual seharga Rp270.000 per mobil pick up. Sementara itu, para suami mereka kebanyakan memilih merantau ke luar kota untuk bekerja sebagai buruh bangunan.
Salah seorang pencari pasir, Boriyah mengungkapkan bahwa pekerjaan ini dilakukan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.
“Suami saya bekerja di proyek bangunan, dan karena kemarau, tidak semua bisa menanam. Jadi ibu-ibu di sini nyari pasir, sementara bapak-bapaknya bekerja bangunan,” ujarnya. Meski harus menahan dingin saat menyelam, pekerjaan ini terpaksa dijalani demi penghidupan keluarga.
Prapti, warga setempat lainnya, juga menambahkan bahwa kondisi ladang yang kering membuat mereka beralih ke sungai. “Kalau ke ladang kering, tidak bisa bercocok tanam. Jadi larinya ke sungai untuk cari pasir, sementara bapaknya ke luar kota bekerja sebagai buruh bangunan,” jelasnya.
Profesi sebagai penyelam pasir ini hanya dilakukan emak-emak di musim kemarau. Ketika musim hujan tiba dan sawah kembali bisa digarap, mereka akan kembali menjadi buruh tani. Hal yang sama juga terjadi pada suami-suami mereka yang kembali ke desa setelah merantau sebagai buruh bangunan.
Dengan kondisi ini, para warga Desa Pendem berharap agar kemarau segera berakhir, sehingga mereka bisa kembali ke pekerjaan utama sebagai buruh tani, yang selama ini menjadi mata pencaharian utama mereka. [fiq/suf]






