Targetnya merebut dukungan 15 juta suara. Itu ekspektasi politik Luluk Nur Hamidah dan Lukmanul Khakim, Bakal Calon Gubernur (Cagub) dan Calon Wakil Gubernur (Cawagub) Jawa Timur (Jatim) dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Target itu sekadar impian atau fakta yang mungkin bisa diwujudkan.
“Saya percaya itu target yang masuk akal ya, karena yang pertama adalah PKB sudah punya basis elektoral,” kata Luluk saat pertemuan dengan media massa di Surabaya pada Selasa (17/9/2024).
Boleh-boleh saja pasang target merebut suara berapa pun di Pilgub Jatim 2024. Tak ada yang salah. Tak ada yang mengharamkan. Mesti ada ikhtiar politik maksimal untuk mewujudkan. Hal lain yang harus dilihat adalah track record suara partai pengusung dan pendukung yang berada di belakangnya.
PKB Jatim merupakan kekuatan politik terbesar di provinsi berpenduduk 40 juta jiwa ini. Terbesar, tapi bukan mayoritas. Apalagi single majority seperti Golkar (kini Partai Golkar) di era rezim Orde Baru (Orba) Soeharto.
PKB telah memenangkan empat kali Pileg di Jatim: 1999, 2004, 2014, dan 2024. Itu prestasi politik luar biasa dibandingkan dengan partai lain. Mari tengok partai lain. Partai Demokrat menang Pileg di Jatim pada 2009. PDIP menang tipis atas PKB di Pileg 2019. Dari enam kali hajatan pileg di Jatim, sebanyak empat kali dimenangkan PKB.
Pada Pileg 2024, PKB menjadi partai dengan raihan suara terbanyak untuk tingkat DPRD Provinsi Jatim, yakni 4.517.228 suara. Partai ini berhak mengirimkan 27 wakilnya DPRD Jatim. Perolehan PKB tersebut naik dua kursi dibanding Pileg 2019, di mana saat itu PKB meraih 25 kursi. Sebagai pemenang Pileg, PKB bakal meraih kursi Ketua DPRD Jatim.
Hasil Pileg 2024 oleh PKB dengan target yang dipasang Luluk dan Lukman, yang ingin dikenal dengan singkatan LUMAN di Pilgub Jatim membutuhkan tambahan sekitar 10,5 juta suara. Itu angka sangat besar. Apalagi dikaitkan dengan partai pengusung LUMAN yang hanya satu partai: PKB.
Dibutuhkan effort luar biasa untuk menggapai 10,5 juta suara tambahan tersebut. Dengan capaian 10.465.218 suara, duet Khofifah Indar Parawansa-Emil Elestianto Dardak telah memenangkan Pilgub Jatim 2018. Pasangan ini unggul atas duet Saifullah Yusuf-Puti Guntur Soekarno yang merebut 9.076.014 suara. Padahal, Saifullah Yusuf-Puti Guntur saat itu diusung empat partai: PDIP, PKB, PKS, dan Partai Gerindra. Sangat beda dengan Luluk dan Lukman saat ini yang hanya disokong PKB.
Politik adalah seni kemungkinan. Apa yang tak mungkin secara nalar publik bisa saja terjadi. Berwujud nyata. Walau demikian, konteks politik kekinian telah dituntun dengan scientific. Perilaku dan pilihan politik massa di hajatan demokrasi elektoral bisa dites, dianalisa, dan didiagnosis nyaris presisi. Instrumen scientific yang dipakai adalah survei elektabilitas.
Publik belum pernah tahu seberapa besar persentase elektabilitas duet Luluk dan Lukman saat ini. Metode survei mencoba mendekati dan memahami perilaku pilihan politik konstituen dengan pendekatan kuantitatif. Kewarasan publik atas dinamika politik nasional dibimbing dan dicerahkan dengan scientific yang akuntabel dan transparan.
Sandaran data adalah hal penting dalam menyajikan argumentasi. Di sini, objektivitas dibangun dan dipertahankan. Merujuk data Pilgub Jatim 2018, duet Saifullah Yusuf-Puti Guntur Soekarno yang diusung PKB, PDIP, PKS, dan Partai Gerindra merebut 9,076 suara. PKB dan PDIP merupakan dua partai terbesar di Jatim hasil Pileg 2014.
Kita elaborasi lebih dalam lagi soal data hasil Pilgub Jatim 2018. Gus Ipul (panggilan akrab Saifullah Yusuf) dan Puti Guntur menang di 11 dari 38 kabupaten/kota di Jatim. Khofifah-Emil unggul di 27 kabupaten/kota. Ke-11 kabupaten/kota yang dimenangkan Gus Ipul dan Puti Guntur adalah Bangkalan, Blitar, Kediri, Kota Batu, Kota Blitar, Kota Madiun, Kota Pasuruan, Madiun, Malang, Pasuruan, dan Situbondo. Ada empat kota yang dimenangkan Gus Ipul dan Puti Guntur. Itu wilayah dengan jumlah demografi yang kecil, sehingga jumlah konstituennya juga sedikit.
Hanya di tiga kabupaten duet Gus Ipul-Puti Guntur unggul agak tebal dibanding Khofifah-Emil Dardak. Ketiganya adalah Kabupaten Malang. Di kabupaten ini, Gus Ipul-Puti Guntur unggul dengan 621.650 suara dibanding Khofifah0Emil Dardak yang meraup 588.727 suara.
Lalu di Kabupaten Pasuruan, Gus Ipul-Puti Guntur dapat 383.660 suara dibanding Khofifah-Emil Dardak dengan 331.225 suara. Terakhir di Kabupaten Situbondo, Gus Ipul-Puti Guntur dengan 172.048 suara dibanding Khofifah-Emil Dardak dengan 138.174 suara.
Duet Gus Ipul-Puti Guntur tak bisa diperlakukan sama dan sebangun dengan duet Luluk-Lukman. Bisa saja raihan suara Luluk-Lukman di Pilgub Jatim 2024 jauh lebih tinggi dan lebih besar dibanding Gus Ipul-Puti Guntur. Atau justru sebaliknya. Capaian suara Luluk-Lukman malah jeblok.
Dalam perspektif demikian, hasil survei elektabilitas jadi guidance dan kompas bagi publik dalam membaca dan memahami tren pilihan politik warga Jatim menjelang 27 November 2024.
Merebut Suara Nahdliyyin
Jatim menjadi tlatah politik sebagai basis terkuat dukungan kepada PKB secara nasional. Realitas ini tak mungkin dilepaskan dari warga Nahdlatul Ulama (NU), ormas Islam terbesar di Indonesia. PKB merupakan partai yang punya jejak dan kaitan historis, kultural, dan aspirasi dengan NU. Partai ini merupakan wadah berpolitik praktis komunitas Nahdliyyin setelah Reformasi 1998.
Pilar penting NU adalah kiai: seorang tokoh agama yang memiliki kapasitas keilmuan yang kuat berpaham Aswaja (Ahlul Sunnah wal Jamaah), punya jemaah (pengikut), dan jadi teladan bagi jemaahnya. Seorang kiai berpengaruh dan memiliki jejaring umumnya adalah pemangku pondok pesantren (ponpes).

Jejaring kiai dengan pengaruh luas dan kuat, baik dalam perspektif teologi, sosial, kultural, dan politik, melahirkan poros dalam konteks kontestasi politik praktis. Poros politik kiai ini memegang peran besar dalam menggiring, mengarahkan, dan memobilisasi suara pemilih di lingkungan komunitas Nahdliyyin kepada kandidat gubernur dan wagub tertentu.
Kajian yang dilakukan penulis atas fenomena pembelahan dukungan jaringan kiai NU di Pilgub Jatim 2018 menunjukkan bahwa secara faktual, jaringan kiai NU yang mendukung Gus Ipul-Puti Guntur adalah kiai-kiai NU yang juga merapat ke pasangan Soekarwo-Gus Ipul (KarSa) di Pilgub Jatim 2008 dan 2013.
Mereka, para kiai sepuh NU itu, lantas mendukung Gus Ipul-Puti Guntur dengan harapan pada Pilgub Jatim 2018 sudah saatnya ada kader tulen NU yang menduduki jabatan Gubernur Jatim setelah selama 10 tahun nyantri sebagai wagub. Pilihan itu jatuh kepada Gus Ipul yang memang dikenal dekat dengan banyak kiai sepuh NU di Jatim.
Lalu bagaimana jaringan antarkiai NU yang mendukung Gus Ipul-Puti Guntur itu dibangun dan dikonsolidasikan? Setidaknya ada tiga elemen yang membuat jaringan antarkiai NU itu solid dan kuat memberikan dukungan politik kepada Gus Ipul-Puti Guntur. Apa itu?
Pertama, adanya kesamaan guru atau kiai dan alumni ponpes di antara para kiai. Kedua, karena jalinan pernikahan, sehingga antara kiai satu dengan lainnya sebenarnya terikat hubungan kekerabatan secara langsung maupun tak langsung. Ketiga, para kiai itu sudah mengenal dan memahami secara personal Gus Ipul.
Dalam perspektif demikian, aspek nasab (garis kekerabatan) menjadi hal penting yang diperhitungkan dan berpengaruh besar. Gus Ipul dikenal sebagai salah satu ketua PBNU, mantan Ketum GP Ansor, punya jalinan kekerabatan dengan KH Bisri Syansuri (salah satu pendiri NU), dan memiliki hubungan keluarga dengan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur).
“Kalau dikatakan Gus Ipul didukung banyak kiai struktural memang ada benarnya. Mayoritas kiai struktural yang punya jabatan struktural memang mendukung Gus Ipul. Tapi, dukungan itu bersifat pribadi dan tak melibatkan organisasi NU. Pada Pilgub Jatim 2018, mayoritas pengurus PWNU Jatim mendukung Gus Ipul. Demikian pula pengurus PCNU. Jadi, yang dimaksud dengan kiai struktural adalah kiai menjadi pengurus NU dan kiai kultural adalah kiai yang menjalankan amaliah NU tapi tak menjadi pengurus organisasi NU. Pada Pilgub Jatim 2018 lalu saya tak sepakat kalau dikatakan ada rivalitas antara kiai struktural dengan kiai kultural,” kata Dr KH Fahrurrozi (Gus Fahrur), pengasuh Pondok Annur Bululawang, Kabupaten Malang.
Ainur Rohim,
Direktur Utama dan Penanggung Jawab beritajatim.com






