Ponorogo (beritajatim.com) – Musim kemarau membuat beberapa daerah di Kabupaten Ponorogo mengalami bencana kekeringan. Namun, di Desa Tatung Kecamatan Balong, musim kemarau yang terjadi seperti saat ini, justru membawa berkah tersendiri bagi petani tembakau di sana. Bagaimana tidak, kualitas tembakau yang dihasilkan tahun ini mengalami peningkatan signifikan. Hal itu sebagian besar dipengaruhi oleh cuaca kering yang berlangsung lama.
Sebagai salah satu sentra produksi tembakau utama di Ponorogo, Desa Tatung mencatatkan peningkatan kualitas panen. Para petani di sana pun menilai bahwa panenan tahun ini yang terbaik dalam beberapa tahun terakhir. Daun tembakau jadi lebih kering alami, dan itulah yang meningkatkan kualitasnya.
“Musim kemarau seperti ini sangat mendukung kualitas tembakau. Daun tembakau jadi lebih kering alami, dan itu yang meningkatkan kualitas,” ungkap Kepala Desa Tatung, Rudi Sugiarto, Selasa (10/09/2024).
Tahun ini, luas lahan tanam tembakau di Desa Tatung juga meningkat, yakni mencapai 140 hektare. Jumlah itu, kata Rudi naik 20 hektare dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Peningkatan juga tidak lepas dari harga jual tembakau yang cukup tinggi. Saat ini, harga tembakau dikisaran Rp32 ribu hingga Rp45 ribu per kilogramnya.
“Harga tergantung kualitasnya. Dan harga saat ini cukup menarik bagi banyak petani untuk lebih bersemangat menambah luas tanam,” kata Rudi.
Musim kemarau panjang yang biasanya dikhawatirkan petani karena kekurangan air, justru dinilai sebagai keuntungan bagi para petani tembakau. Proses pengeringan tembakau menjadi lebih optimal, sehingga hasil panen lebih berkualitas. Para petani berharap cuaca kering ini terus berlangsung hingga masa panen berakhir agar kualitas tembakau tetap terjaga.
“Sekitar 70 persen warga Desa Tatung ini, menggantungkan hidup dari budidaya tembakau. Dengan kondisi cuaca yang menguntungkan seperti ini, para petani optimis bisa memperoleh pendapatan yang lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya,” katanya.
Tahun lalu, potensi hasil panen di desa ini mencapai Rp25 miliar, dan untuk tahun ini diprediksi bisa mencapai angka yang lebih tinggi. Petani berharap harga jual tetap stabil hingga akhir panen, dan musim kemarau panjang ini terus memberikan keuntungan bagi mereka.
“Dengan kualitas tembakau yang lebih tinggi, kami optimis hasil panen tahun ini akan memberikan dampak positif bagi perekonomian desa,” tutup Rudi. [end/but]






