Surabaya (beritajatim.com) – Fanny Soegiyanto Bornean, pelantun lagu ‘Asmalibrasi’ yang sempat ramai beberapa waktu lalu, kini menggegerkan publik mengenai royalti lagu dari mantan band nya, Soegi Bornean.
Sebelumnya, Fanny telah menyatakan keluar dari Soegi Bornean pada Maret 2024. Namun, melalui cuitan di platform X miliknya, @fannysoegi, vokalis kelahiran 1999 tersebut membeberkan beberapa fakta mengejutkan.
Dalam cuitan perdananya, Fanny menyuarakan mengenai ketidakadilan yang diterima sang pencipta lagu. Menurutnya, lagu ini telah mendapatkan respon besar dari publik, namun keuntungannya bahkan tak bisa dirasakan oleh sang maestro.
“Orang-orang yang nggak berhak bahkan bisa beli 2 mobil sekaligus, gitar mahal, foya-foya. Sedangkan pencipta lagu ‘Asmalibrasi’ masih ngontrak di Jogja, mana atapnya jebol lagi.” unggah Fanny di akun X miliknya.
Membentuk thread panjang, Fanny melanjutkan keresahannya dengan menyebutkan nominal royalti. “Nominal dari royalti lagu ini nggak main-main. Setengah milyar lebih ada, tapi justru orang-orang yang nggak punya hak dapat paling banyak dan nggak transparan.”
Cuitan kontroversial yang diunggah Fanny ini menarik atensi dan membuat publik ikutan geram. Tak sedikit yang mulai ikut mengkritik band Soegi Bornean, lantaran beberapa lagunya memang memiliki statistik pendengar cukup tinggi.
“Aku masih inget banget rasanya 7 harian ibuku, aku diharuskan tetap manggung dengan kata-kata menyakitkan.” tambahnya.
Fakta tersebut semakin membakar netizen. Komentar kritik semakin banyak ditemukan di Instagram resmi band bergenre indie tersebut.
Selain royalti lagu, Fanny juga menyebutkan mengenai problematika yang dialaminya dengan Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) .
“Aku masih inget, ketika mau keluar dari band dan dihadapkan sama orang-orang HAKI. Aku diharuskan bayar namaku sendiri yakni ‘Soegi’ kalau aku keluar dengan entitas yang baru” ujarnya pada 8 September.
Vokalis eks Soegi Bornean ini lahir dengan nama lengkap Fanny Soegiarto Bornean. Ketika berproses membentuk band dengan 2 gitaris, Aditya Ilyas dan Bagas Prasetya, band ini memutuskan debut dengan nama belakang Fanny, yakni Soegi Bornean.
Pada saat unggahan mengenai hal ini mencuat, netizen ramai-ramai memberikan respon keprihatinan pada Fanny, lantaran harus membayar untuk menggunakan namanya sendiri.
Merespon cuitan Fanny yang menjadi viral, akun Instagram resmi @soegiborneanmusik mengunggah klarifikasi dari pihak management mereka.
Dengan unggahan pertama yang bertajuk permintaan maaf mengenai kegaduhan yang telah terjadi, Soegi Bornean menyatakan bahwa terdapat beberapa hal yang menyimpang dari unggahan Fanny.
Soegi Bornean mengatakan bahwasanya uang royalti dari lagu hit mereka, ‘asmalibrasi’, telah terdistribusi dengan rata pada pihak-pihak terkait. Fanny selalu terlibat dalam proses diskusi, serta hubungan antara management soegi Bornean dan pencipta lagu tersebut dalam kondisi baik.
“Bahkan masih ada kerjasama di salah satu karya pada album baru Langkah Rupa”. Unggah management pada 9 September 2024.
Selain itu, pihak Soegi Bornean menyatakan bahwa keputusan Fanny untuk tampil pasca 7 hari kematian ibunya adalah hasil keputusan bersama termasuk Fanny sendiri.
Di slide unggahan terakhirnya, band tersebut menyatakan harapannya untuk membangun komunikasi yang lebih baik lagi dengan Fanny Soegi, sehingga dapat meluruskan permasalahan ini.
“Semoga ini menjadi pembelajaran untuk kedepannya. Sekali lagi kami memohon maaf atas kegaduhan ini.” tambah akun Instagram @soegiborneanmusik. [aje]







