Yogyakarta (beritajatim.com)– Universitas Gadjah Mada (UGM), melalui Fakultas Teknik, baru saja meluncurkan pesawat nirawak atau Unmanned Aerial Vehicle (UAV) yang diberi nama Palapa S-1. UAV ini dikembangkan oleh Prof. Dr. Ir. Gesang Nugroho, ST., MT, yang juga merupakan staf pengajar di Fakultas Teknik UGM. Pesawat ini dirancang untuk berbagai aplikasi, mulai dari surveilans dan pemetaan, hingga patroli kebakaran hutan dan penanganan darurat bencana.
Prof. Ir. Selo, Ph.D., Dekan Fakultas Teknik UGM, menyatakan bahwa Palapa S-1 dirancang khusus untuk memantau kebakaran hutan, namun dapat dikustomisasi untuk berbagai keperluan lainnya. “Pesawat nirawak ini bisa diaplikasikan ke berbagai bidang. BPBD, misalnya, bisa memanfaatkannya untuk memantau bencana seperti gempa bumi,” ujarnya melalui siaran pers.
Ketua tim peneliti, Gesang Nugroho, menjelaskan bahwa UAV Palapa S-1 yang didanai oleh LPDP ini memiliki efisiensi tinggi. UAV ini mampu terbang selama 6 jam dengan jangkauan telemetri mencapai 500 kilometer. “Dalam 6 jam, UAV ini bisa memetakan area seluas 3.500 hektar,” katanya.
Gesang juga menambahkan bahwa UAV ini dapat digunakan untuk berbagai keperluan, tergantung pada sensor yang dipasang. UAV Palapa S-1 bisa dimanfaatkan untuk pengintaian militer, patroli laut, pemantauan perkebunan, serta pertambangan. UAV ini telah menjalani serangkaian uji kehandalan dan akan dipromosikan ke berbagai instansi, termasuk Kementerian Pertahanan RI.
Pengembangan UAV Palapa S-1 memakan waktu tiga tahun, sejak 2021, dengan fokus pada peningkatan struktur agar lebih ringan dan kuat sehingga payload dapat ditingkatkan. “Tahun ini merupakan tahun ketiga pengembangan, dan berbagai pengujian telah dilakukan. UAV ini awalnya dirancang untuk deteksi dini kebakaran hutan, dan akan melakukan pemadaman setelah memperoleh data titik panas yang valid,” jelas Gesang.
Gesang juga mengungkapkan bahwa pesawat ini pernah disaksikan oleh Menteri Pertahanan Prabowo Subianto pada tahap awal pengembangannya. Setelah pengujian selesai dan kehandalan terbukti, UGM berencana untuk melanjutkan pembicaraan dengan pihak Kementerian.
Meski Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) baru mencapai 30-40 persen, Gesang menyatakan bahwa UAV Palapa S-1 siap untuk diproduksi massal. Dalam waktu tiga bulan, kapasitas produksi mencapai tujuh unit pesawat. UAV ini telah melalui berbagai uji, termasuk uji aerodinamik, stabilitas, telemetri, endurance, serta misi di lingkungan sebenarnya. “Pada prinsipnya, UAV ini dapat digunakan untuk berbagai keperluan, termasuk militer,” tutupnya. [aje]






