Jember (beritajatim.com) – PDI Perjuangan membuka pintu bagi partai lain untuk berkoalisi mengusung pasangan Hendy Siswanto dan Muhammad Balya Firjaun Barlaman dalam pemilihan kepala daerah di Kabupaten Jember, Jawa Timur.
Saat ini, Hendy-Firjaun hanya diusung PDI Perjuangan yang memiliki 14,37 persen suara pemilih sah. “Kami berharap dalam waktu yang tersisa ini masih ada partai-partai lain yang kira-kira berpandangan politik yang sama, mari bergabung,” kata Arif Wibowo, Ketua Dewan Pimpinan Cabang PDI Perjuangan Kabupaten Jember dan Wakil Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Pusat PDI Perjuangan, Selasa (27/8/2024).
“Tapi kalau tidak ada, kami tetap akan berjuang bersama Pak Hendy dan Gus Firjaun untuk memenangi hati rakyat Jember, untuk mengatasi masalah-masalah yang dihadapi (sebagian) masyarakat Jember, yang notabene adalah masyarakat yang berkategori masyarakat yang tidak berkemampuan, masyarakat yang tidak berpenghasilan, dan masyarakat yang diselimuti kebodohan, dan masyarakat yang masih harus memperjuangkan banyak hal untuk mencapai kesejahteraan,” kata Arif.
Arif percaya jika Hendy-Firjaun kembali terpilih akan bisa mengatasi persoalan itu. “Saya sudah sampaikan bahwa kami akan mengawal sekeras-kerasnya dan sehebat-hebatnya untuk mencapai tujuan mulia tersebut,” katanya.
Saat ini Hendy-Firjaun dengan didukung PDI Perjuangan harus berhadapan dengan Muhammad Fawait-Djoko Susanto yang didukung koalisi besar 15 partai politik. “Ini realitas yang tidak bisa kita hindari. Kalau tidak ada partai yang mau bersama kami, ini kenyataan yang tidak bisa kita elakkan dan seperti biasa PDI Perjuangan, partai rakyat, partainya wong cilik, sendiri pun kita maju terus pantang mundur. Ever onward, never retreat untuk rakyat Jember,” kata Arif.
Arif bersyukur putusan Mahkamah Konstitusi soal pilkada terbit dan membuat PDI Perjuangan bisa mencalonkan sendiri pasangan bupati dan wakil bupati. “Sebelum putusan MK terbit, kami diledek, dilecehken, dan ditinggal. Prosesnya panjang,” katanya.
“Tapi saya harus sampaikan bahwa PDI Perjuangan partai ideologis, partai yang punya pandangan politik, partai yang punya pendirian, dan tidak mau terjerembab pada pragmatisme politik yang menghantui kita selama beberapa dekade sejak Reformasi,” kata Arif.
“Oleh karena itu, kami mencari pemimpin yang berkesesuian dengan garis ideologi partai, pandangan politik partai, kebijakan partai, dan putusan-putusan politik partai,” kata Arif. [wir]






