Ponorogo (beritajatim.com) – Bencana kekeringan di Kabupaten Ponorogo nampaknya meluas. Hal itu seiring dengan belum menentunya musim kemarau akan berakhir di bumi reog pada tahun ini. Permintaan droping air bersih yang ditujukan kepada BPBD Ponorogo pun bertambah.
Setidaknya, ada 2 titik perluasan kekeringan di Ponorogo, yang membuat warganya melakukan permintaan droping air bersih.
“Ada perluasan kekeringan per tanggal 21 Agustus 2023 lalu, ada 2 lokasi yang meminta droping air bersih,” kata Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Ponorogo, Masun, ditulis Minggu (25/08/2024).
Masun menyebutkan bahwa 2 lokasi permintaan droping air bersih terbaru, yakni di Desa Belang Kecamatan Bungkal. Di sana, ada 21 kepala keluarga (KK) yang terdampak kekeringan. Sementara satunya lagi di Dusun Sukun Desa Sidoarjo Kecamatan Pulung. Di lokasi ini, bukan berbeda dusun yang minta droping air bersih, melainkan kekeringan meningkat di rukun tetangga (RT) lainnya.
“Tambahan droping air bersih di Desa Belang Kecamatan Bungkal dan Desa Sidoarjo di Kecamatan Pulung. Untuk yang Desa Sidoarjo itu, ada perluasan kekeringan yang ada di Dusun Sukun,” katanya.
Di lokasi terbaru di Dusun Sukun Desa Sidoarjo ini, BPBD Ponorogo akan turun ke lokasi, untuk mengecek sarana dan prasarananya. Mulai dari jerigen yang diperlukan, hingga tempat tandon air di wilayah tersebut.
“Kita ke lokasi untuk memastikan sarana dan prasarana untuk droping air nanti ada,” katanya.
Untuk diketahui sebelumnya, tercatat ada 6 dusun yang mengalami kekeringan. Dari jumlah itu, ada 540 kepala keluarga (KK) yang terdampak. Alhasil, BPBD Ponorogo pun secara rutin melakukan droping air bersih ke wilayah-wilayah yang mengalami kekeringan itu.
Dari 6 dusun yang mengalami bencana kekeringan itu, yakni meliputi Dusun Krajan Tengah (125 KK) dan Dusun Bedog (35 KK) di Desa Wates Kecamatan Slahung. Kemudian Dusun Jenggrinh (56 KK) di Desa Duri Kecamatan Slahung, Dusun Dungus (276 KK) di Desa Karangpatihan Kecamatan Pulung. Masih di Kecamatan Pulung, ada Dusun Sukun (13 KK) dan Dusun Krajan (35 KK) di Desa Sidoarjo.
“Dari 6 dusun itu, yang terdampak ada 540 KK,” pungkas Masun. [end/aje]






