Malang (beritajatim.com) – Universitas Brawijaya (UB) membebaskan mahasiswa difabel jalur Seleksi Mandiri Penyandang Disabilitas (SPMD) dari kewajiban pembayaran Iuran Pengembangan Institusi (IPI). Kebijakan ini sebagai bentuk komitmen keberpihakan UB terhadap penyandang disabilitas.
Zubaidah Ningsih AS., Ph.D, sebagai Kepala Subdirektorat Layanan Disabilitas (SLD) menyampaikan bahwa kebijakan yang baru saja diberlakukan tahun ini, tidak hanya memberlakukan bebas IPI tetapi juga biaya UKT. Dijalankannya bahwa UB tahun ini menerima 19 mahasiswa difabel, 15 orang diterima melalui jalur SMPD.
“Pemerintah juga telah menawarkan beasiswa ADIK tetapi baru bisa diakses di semester satu, sehingga pimpinan UB memberi kebijakan tersebut. Ini sebagai bentuk dukungan beasiswa UB kepada mahasiswa difabel,” ujar Kepala SLD, Senin (12/8/2024) kemarin.
Dari total 19 mahasiswa difabel, 15 empat diantaranya lewat jalur SNBP dan SNBT. Mereka terdiri dari ADHD (1 orang), Tunadaksa (6 orang), Tuli (8 orang), Tunanetra (3 orang), dan Slow Learner (1 orang).
“Mereka tersebar di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Fakultas Ilmu Administrasi, Fakultas Ilmu Komputer, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Fakultas Teknik, Fakultas MIPA, dan Fakultas Vokasi,” ungkap Zubaidah.
UB menerima mahasiswa difabel sejak tahun 2012. Selama perkuliahan, SLD memberi fasilitas berupa pendampingan, dosen yang sudah dilatih untuk mengajar mahasiswa difabel, mobil kursi roda untuk mobilisasi di kampus.
“Kami juga menyediakan screen reader untuk membantu teman netra membaca buku atau materi perkuliahan, serta coaching class untuk pembelajaran intensif, melatih critical thinking, persiapan TOEFL, dan penyusunan skripsi. Terkait mental intelektual, kami juga bekerjasama dengan Unit Konseling untuk pendampingan psikolog,” tutup Zubaidah.
Zubaidah mengapresiasi keterlibatan mahasiswa difabel dalam kepanitiaan Raja Brawijaya (Rabraw). Termasuk memberi pembekalan disability awareness kepada 200 supervisor cluster.
“Saya senang dengan perkembangan ini karena mahasiswa disabilitas sudah mampu berkarya bersama dengan teman-temannya diwujudkan dengan kerja sama mereka di panitia PKKMB,” ungkap Zubaidah.
Zubaidah menuturkan, dalam persiapan PKKMB 2024, SLD mendata dan mengakumulasi kebutuhan maba difabel. Contohnya kebutuhan Juru Bahasa Isyarat (JBI), pendampingan, atau pengetik cepat. Menurut Zubaidah, tidak semua disabilitas tuli bisa bahasa isyarat sehingga pihaknya menyediakan sembilan pengetik cepat agar maba difabel memahami materi yang disampaikan.

“Itu kami dituliskan secara langsung di Google Docs. Kami juga menyediakan dua belas JBI, pendamping untuk tuna netra, pendorong kursi roda, ada pendamping untuk ADHD dan slow learner. Semua ini untuk memfasilitasi agar mahasiswa difabel tetap fokus mengikuti PKKMB,” tutupnya.
Sementara itu, pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru Universitas Brawijaya (PKKMB UB) Tahun Akademik 2024/2025 diadakan tiga hari, Senin-Rabu (12-14/09/2024). Mahasiswa baru (maba) tahun ini memperoleh tugas membuat video perkenalan menggunakan bahasa isyarat.
Ketua Pelaksana Rangkaian Acara Jelajah Almamater UB (Raja Brawijaya) 2024 Muhammad Zaki Ibrahim menyampaikan pemberian tugas tersebut merupakan salah satu bentuk dukungan inklusi-disabilitas di kampus.
“Kepanitiaan RABRAW tahun ini melibatkan beberapa mahasiswa difabel, dan penugasan untuk maba juga lahir dari inisiatif panitia difabel. Ini sebagai salah satu implementasi inklusivitas di kampus,” ungkap Zaki. [dan/beq]






