Bondowoso, (beritajatim.com) – Bisnis kopi di Kabupaten Bondowoso dianggap meyakinkan dan menguntungkan. Selain pertanian kopi yang dikelola mandiri di lahan milik rakyat, juga ada perkebunan kopi yang digarap hasil kerjasama dengan Perum Perhutani.
Administratur Perhutani KPH Bondowoso, Misbahul Munir menyebut geliat perekonomian dari berkebun kopi di Bondowoso cukup menjanjikan. “Hal itu tampak dari areal lahan perkebunan kopi yang dikerjasamakan meningkat setiap tahunnya,” kata Munir, Selasa (13/8/2024).
Berdasarkan data, luas areal lahan perkebunan kopi yang dikerjasamakan antara Perhutani dan rakyat di Bondowoso naik 2.000 hektar 7 tahun terakhir. “Tahun 2017 lalu luasannya 7.000 hektar. Sedangkan tahun ini sudah 9.000 hektar,” sebutnya.
Komposisi bagi hasil Perjanjian Kerjasama (PKS) antara Perhutani dengan petani 30:70 persen dari hasil penjualan bersih. “Untuk target di Perhutani kan terus naik. Dulu dari Rp 1,2 miliar, naik ke Rp 1,5 miliar. Tahun ini targetnya Rp 3,7 miliar,” beber pengurus GP Ansor Jawa Timur tersebut.
Pria asal Kota Probolinggo ini berkeyakinan Perhutani KPH Bondowoso mampu memenuhi target tersebut. “Saya tak mau di bawah target. Harus memenuhi bahkan harus melebih target,” katanya optimis.
Ia menuturkan, sekitar 90 persen perkebunan kopi di Bondowoso ditanam di wilayah hutan atau di bawah naungannya. “Sementara kawasan hutan di Bondowoso yang dikelola Perhutani seluas 58 ribu hektar dan potensial untuk terus digarap maksimal,” kata dia.
Pihaknya berharap petani mitra Perhutani tidak kucing-kucingan dengan membeberkan data palsu tentang luasan yang digarap. Hal itu berdampak pada tidak diketahuinya produksi kopi petani yang sebenarnya. Oleh sebab itu, petani diharap jujur mengukur lahan yang digarapnya.
“Ini kerjasama pemanfaatan hutan. Saya mau masyarakat (petani mitra Perhutani) jujur. Karena jujur gak mungkin hancur,” pesan Munir yang juga pengurus MUI Jawa Timur ini. [awi/suf]






