Yogyakarta (beritajatim.com) – Di hari kedua event Kotabaru Heritage Festival Film (KHFF) 2024 menghadirkan teatrikal Sinema Berdansa Pengabdi Setan. Para pemeran merupakan seniman potensi wilayah dari 31 rintisan kelurahan budaya se-Kota Yogjakarta.
Secara apik, mereka tampil di Lapangan Padmanaba, SMA Negeri 3 Yogyakarta. Meskipun bergenre horor, namun teatrikal yang ditampilkan para seniman berbagai usia tersebut cukup membuat pengunjung terhibur.
Dalam Sinema Berdansa Pengabdi Setan tersebut menampilkan cerita dari sepasang suami-istri (pasutri) yang ingin mengubah nasib dengan jalan pintas. Dengan menggunakan jasa seorang dukun untuk melariskan dagangannya.
Puluhan pocong ditampilkan untuk memberikan kesan horor, namun tak jarang adegan yang diperagakan membuat pengunjung tertawa lepas. Dengan akhir kisah yang diketahui jika pasutri tersebut menggunakan jasa dukun hingga akhirnya keduanya mendapat balasan.
Di akhir pertunjukan, para pengunjung diajak berjogat bersama dengan puluhan pocong pemeran Sinema Berdansa Pengabdi Setan. Bahkan para pocong secara langsung mendatangi para pengunjung untuk diajak joget bersama di bawah panggung.
Kepala Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, Yetty Martanti menjelaskan, Sinema Berdansa adalah salah satu teatrikal yang berisi seni pertunjukan respon dari sebuah film. “Bagaimana sebuah film diwujudkan dalam sebuah bentuk pertunjukan,” ungkapnya, Sabtu (10/8/2024).
Masih kata Yetty, dalam KHFF 2024 ada beberapa film yang direspon dalam bentuk Sinema Berdansa. Sinema Berdansa tersebut dari 31 rintisan kelurahan budaya yang ada di Kota Yogyakarta. Mereka yang berperan dalam Sinema Berdansa adalah seniman potensi wilayah.
“Ini seniman potensi wilayah yang berkolaborasi dalam Sinema Berdansa, jadi ini semua masyarakat. Koreografinya oleh koreografer orang Jogja tapi yang sudah ke tingkat nasional, mereka berkolaborasi menampilkan sebuah pertunjukan yang disaksikan masyarakat,” katanya.
Menurutnya, hal yang unik di tahun kedua penyelenggaraan KHFF 2024 adalah program untuk perfilman. Ada kompetisi di dalamnya yang nantinya di hari terakhir akan ada awarding, public lecture, workshop, pemutaran film dan pameran.
“Yang membedakan, kalau rintisan budaya kelurahan yang dilibatkan adalah salah satu kolaborasi lintas seni dimana rintisan budaya dari wilayah itu mampu merespon media film untuk kemudian diwujudkan dalam bentuk pertunjukan,” urainya.
Selain itu, lanjut Yetty, Pasar Kobar yang merupakan kolaborasi dengan pengrajin kuliner dan pengrajin dari 31 rintisan kelurahan budaya. Menurutnya, yang tanpil dalam KHFF 2024 adalah otentik dari Kota Yogjakarta.
“Ada 45 kelurahan tapi ini yang masuk dalam rintisan kelurahan budaya ada 31 kelurahan. Kalau yang tahun kemarin itu grand cinema, nonton film dengan menggunakan becak. Kalau tahun ini lebih banyak mengkolaborasi dengan potensi wilayah tapi program perfilman tetap jalan,” jelasnya.
Namun, tegas Yetty, bagaimana KHFF 2024 bisa menjadi ruang atau media masyarakat untuk bisa melihat film dari perspektif warisan budaya. Termasuk ditampikan kuliner yang merupakan warisan budaya serta pameran yang menjadi penanda.
“Yakni artefak-artefak, bagaimana perkembangan film di Jogja. Banyak bioskop dan sebagainya. Sehingga para pengunjung bisa mendapatkan wawasan terkait perfilman di Kotabaru Haritage Fertival Film 2024,” tegasnya.
Sekedar diketahui, KHFF yang tiap tahun digelar di Kawasan Cagar Budaya Kotabaru Kota Yogyakarta ini memasuki tahun kedua. Acara ini berlangsung pada tanggal 9 Agustus – 11 Agustus 2024, di Grha dan Lapangan Padmanaba, SMA Negeri 3 Yogyakarta. [tin/suf]







