Jember (beritajatim.com) – Pemerintah Kabupaten Jember, Jawa Timur, adalah satu-satunya pemerintah daerah di Indonesia yang memiliki pabrik pupuk organik. Pabrik yang memproduksi pupuk organik bermerek Si Jempol ini bagian dari visi ekologi Bupati Hendy Siswanto.
“Seindonesia baru Pemkab Jember yang punya pabrik pupuk Si Jempol ini. Apakah saya gila? Tidak. Tapi saya sadar diri. Kalau anda tidak menikmati hasil Si Jempol ini, sepuluh tahun lagi cucu anda yang akan menikmatinya,” kata Hendy, dalam peringatan Hari Krida Pertanian ke-52, di pabrik pupuk organik, Desa Wirowongso, Kecamatan Ajung, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Sabtu (10/8/2024).
“Pabrik ini milik anda. Silakan pakai, tidak usah bayar. Komitmen kami dengan adanya pabrik pupuk organik, tidak ada satu jengkalpun tanah di Jember ini yang tidak memakai pupuk organik nanti. Semuanya harus memakai organik,” kata Hendy.
Pabrik itu telah memproduksi 190 ton pupuk organik hingga saat ini. “Belum maksimal. Baru tujuh bulan lalu kami resmikan. Pakai saja. Pabrik ini untuk masyarakat Jember,” kata Hendy.
Respons petani mulai bagus. Kini mereka mulai menjual kotoran hewannya kepada pabrik pupuk organik tersebut dengan harga lebih tinggi dari masa awal pendirian. “Dulu kami ambil kotoran ternak tidak usah bayar. Sekarang bayar. Tidak apa-apa. Ini bagus. Namanya bisnis, memanfaatkan situasi yang baik. Ekonomi berjalan,” kata Hendy.
Hendy menyadari penggunaan pupuk organik tidak bisa seketika. “Harus bertahap. Semangat organik jangan pernah pudar. Sekarang sudah ada asuransi pertanian dari Kementeriam Pertanian. Tidak usah takut pakai pupuk organik. Tidak usah takut jadi peternak, karena digaransi dengan asuransi,” katanya.
Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura Perkebunan Jember Imam Sudarmaji melihat petani bersemangat untuk mengumpulkan kotoran hewan, terutama kotoran sapi, untuk bahan dasar pupuk organik Si Jempol. “Kami kumpulkan, ambil, dan kami olah. Kami berikan ke kelompok tani secara gratis,” katanya.
Penggunaan pupuk organik bisa menekan biaya produksi. “Unsur hara tanah semakin baik. Kemarin hasilnya juga tidak kalah. Di Kecamatan Jombang, yang awalnya tujuh ton per hektare, dengan menggunakan pupuk organik dan pestisida nabati, bisa naik menjadi delapan ton per hektare,” kata Imam.
Hendy menceritakan kebahagiaannya saat menyaksikan kembalinya cacing tanah di sawah Desa Darsono, Kecamatan Arjasa. “Saya senang. Artinya tanahnya bagus. Ada juga keong atau kol. Ini artinya kita kembali ke ekosistem. Pupuk organik dari kotoran hewan kita kembalikan ke dalam ekosistem,” katanya.
Pupuk organik Si Jempol didistribusikan gratis di sepuluh balai penyuluh pertanian di Jember. “Jadi untuk tanaman apa saja kami akan evaluasi. Seberapa jauh pengaruh terhadap kesuburan tanah, produksinya berapa, dan penghematan biayanya berapa, kami evaluasi terus. Kami tetap produksi dan berikan gratis kepada kelompok tani,” kata Imam.
Pemerintah Kabupaten Jember berharap semakin banyak petani yang membuat dan menggunakan pupuk organik dan pengendali hayati untuk hama penyakit tanaman agar tanah di Jember kembali subur. “Saya yakin kalau kondisi sawah subur, produksi semakin meningkat,” kata Imam. [wir]






