Malang (beritajatim.com) – Universitas Islam Malang (Unisma) memberangkatkan sebanyak 1045 mahasiswa untuk melakukan Kandidat Sarjana Mengabdi (KSM). Upacara pelepasan dilakukan langsung oleh Rektor dan jajaran Wakil Rektor Unisma pada Senin (5/8/2024) di halaman depan kampus Unisma.
Terdapat hal menarik dari KSM Unisma kali ini karena tidak hanya dilakukan di wilayah Malang Raya saja, tetapi juga di sejumlah daerah lain. Ada ada sekitar 20 mahasiswa melakukan KSM internasional di Thailand dan Malaysia.
Rektor Unisma, Prof Junaidi Mistar menjelaskan bahwa KSM internasional dilakukan dalam rangka memberi kontribusi pada pembangunan masyarakat internasional. Sebanyak 12 mahasiswa dari Fakultas Kedokteran melakukan KSM di Thailand, sementara 8 mahasiswa dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan melangsungkan KSM di Malaysia.
“Dari FK berasal dari program studi pendidikan dokter dan farmasi, di rumah sakit di Thailand Selatan. Di Malaysia, mahasiswa FKIP, mereka akan melakukan kegiatan pembelajaran kepada masyarakat Indonesia yang ada di sana, yg mereka itu terwadahi dalam kelompok pelajar imigran di sana, di Malaysia ini kita bekerjasama dengan salah satu pondok pesantren,” ungkap Prof Jun kepada beritajatim.com.
Dijelaskan Rektor Unisma periode 2024-2028 ini KSM Unisma mempunyai beberapa skema. Pertama, skema KSM nusantara yang penempatannya berbasis asal daerah.
“Pada kali ini baru 2 kelompok berjalan di Lombok Timur dan Pamekasan. Di Nusa Tenggara Timur mahasiswa membentuk kelompok, mereka KSM di sana, di Pamekasan juga sama. Harapannya mereka memberi kontribusi pada daerahnya masing-masing,” jelasnya.
Kedua, ada KSM tematik reguler yang tersebar di wilayah kabupaten Malang. Ketiga, ada KSM ekuivalensi yang diperuntukkan bagi mahasiswa aktivis dengan skor tertentu bisa di ekuivalensi menjadi KSM.
“Jumlah keseluruhan 1400an lebih. Karena ada juga KSM ekuivalensi, untuk aktivis yang banyak terlibat dalam kegiatan kemahasiswa. Mereka bisa bebas KSM apabila mencapai skor tertentu diekuivalnesi dengan pencapaian KSM,” ujar Prof Jun.
Aktivitas KSM Unisma dilakukan selama 7 minggu, terhitung sejak 5 Agustus 2024. Luaran dari kegiatan ini berupa video kegiatan, laporan dalam bentuk artikel, dan aporan kegiatan dalam bentuk laporan biasa.
Melalui KSM ini, Rektor Unisma berharap mampu memberi kontribusi pada pembangunan masyarakat di daerah dan masyarakat internasional. KSM ini diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Mahasiswa lebih paham tentang masyarakat di daerah. Mereka bisa melakukan proses penyesuaian diri dan program sesuai dengan kebutuhan masyarakat di daerah, khusus KSM Nusantara mereka bisa dekat dengan masyarakat di daerah asalnya,” tutup Prof Jun.

Ditambahkan ketua LPPM Unisma, Prof Mahayu Woro Lestari, MP bahwa KSM tematik reguler berlangsung di 10 kecamatan kabupaten Malang. Diantaranya yaitu, kecamatan Pujon, Wajak, Tumpang, Poncokusumo, Kalipare, Karangploso, dan beberapa kecamatan lain.
“KSM tematik sasarannya masyarakat di wilayah kabupaten Malang. Untuk KSM nusantara atau KSM pulang kampung mahasiswa mengabdi di daerahnya masing-masing, mereka liburan sambil melakukan kegiatan. Periode ini tercapai ada 17 orang Lombok, dan di Pamekasan 10 orang,” ucap Prof Woro.
Sementara itu, untuk KSM ekuivalensi pihaknya menegaskan bahwa ada banyak mahasiswa yang mendaftar. Namun, tidak semua mahasiswa bisa lolos program KSM ekuivalensi.
“Bagi yang mengikuti KSM ekuivalensi mereka wajib satu kali hadir di desa, untuk pendampingan dan penyuluhan, jadi tidak hanya di ekuivalensi tetapi mereka juga masih wajib ke desa sekali saja,” tegasnya.
Salah satu peserta KSM, Hafiz Firdaus Syahputra yang akan melakukan kegiatan di kecamatan Tumpang mengaku sudah menyiapkan program kerja. Kelompoknya berencana membangun nama jalan, membuat program 17 Agustusan, dan melakukan giat penghijauan.
“Ada salah satu anggota kami asli Tumpang. Di sana potensinya cukup banyak dari pertanian sampai kesenian. Kami akan melakukan penanaman tumbuhan pucuk merah untuk penghijauan,” ungkap Hafiz yang mengatakan bahwa kelompoknya terdiri atas 10 orang, di satu 1 desa terdapat 4 kelompok sehingga total ada 40 mahasiswa di satu desa. (dan/but)






