Jember (beritajatim.com) – Fakultas Kedokteran Universitas Jember di Kabupaten Jember, Jawa Timur, segera membuka Program Studi Spesialis Bedah. Sebagai awal, program ini sedikitnya akan menerima empat orang calon dokter spesialis.
Program studi ini diharapkan melahirkan 100 orang dokter spesialis bedah dalam satu dekade ke depan. “Kami akan menyesuaikan sumbe rdaya manusianya, baik dosen, sarana dan prasarananya,” kata Dekan FK Unej Ulfa Elfiah, sebagaimana dilansir Humas Unej, Selasa (30/7/2024).
Program studi ini lahir dengan pencirian agromedicine, karena Kabupaten Jember merupakan wilayah agroindustri. Ulfa mengatakan, belum ada Fakultas Kedokteran yang benar-benar mengangkat faktor agraris ini untuk dipelajari dalam bidang Kesehatan. “Agromedicine sebagai penciri lokal. Oleh karena itu, mahasiswa kami sejak lama diberikan pemahaman tentang sektor agroindustri,” katanya.
Padahal, menurut Ulfa, banyak penyakit spesifik yang muncul di wilayah agroindustri, yang memiliki kawasan perkebunan, pertanian, dan pesisir pantai. Apalagi rasio dokter spesialis bedah dan masyarakat masih tinggi yakni satu dokter berbandin 127 ribu pendidik.
Ulfa berharap Program Pendidikan Profesi Dokter Spesialis bedah ini dapat berkontribusi mengembangkan Universitas Jember menuju Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTN-BH).
Sementara itu, Slamin, Wakil Rektor Bidang Akademik Universitas Jember, berharap izin segera diberikan, sehingga semester ini sudah dapat menerima mahasiswa baru. “Kita ingin, pencirian agromedicine,” katanya. Pasalnya di sinilah keunggulan Program Pendidikan Profesi Dokter Bedah Universitas Jember dalam konteks agroindustri atau agromedicine.
Tim evaluasi dari Kementerian Pendidikan Kebudataan Riset dan Teknologi telah datang untuk mengecek usulan pembukaan Pendidikan Profesi Dokter Spesialis Bedah. “Kami telah persentasikan kesiapannya, untuk mendapatkan masukan dari mereka,” kata Slamin.
Slamin menyebut, program ini banyak ditunggu masyarakat. Sebelumnya di Jawa Timur hanya dua program studi spesialis di Univesitas Airlangga dan Universitas Brawijaya. Sementara itu di kawasan Tapal Kuda belum ada pendidikan dokter spesialis. [wir]






