Malang (beritajatim.com) – 50 mahasiswa yang didampingi 2 orang doses dari program studi (prodi) akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam (FEB Unisma) melakukan kunjungan industri ke UMKM Binaan Bank Indonesia (BI). Kunjungan pada akhir Juli ini dilakukan pada UMKM yang sangat sukses di Kabupaten Pasuruan.
Dekan FEB UNISMA Nur Diana S.E, M.Si, menjelaskan kunjungan ini diharapkan mampu menambah wawasan tentang kewirausahaan mahasiswa prodi akuntansi. Dengan begitu, jiwa mereka dapat tergugah menjadi pebisnis atau pengusaha yang bermanfaat bagi kehidupan mendatang.
“UMKM atau usaha mikro menengah kecil di wilayah Kabupaten Pasuruan menjadi mitra Binaan Bank Indonesia. UMKM ini dikembangkan agar mampu mendompleng perekonomian di wilayah setempat,” ujar Diana, Senin (29/7/2024).
Dijelaskan Dekan FEB Unisma, Indonesia saat ini membutuhkan entrepreneur muda yang mampu mendongkrak ekonomi bangsa. Apalagi kini ketidakpastian global mendera sangat tinggi.
“Di sisi lain jumlah entrepreneur Indonesia masih minim di banding jumlah entrepreneur di dunia global. Sudah saatnya mahasiswa belajar dari para entrepreneur Binaan Bank Indonesia, sejatinya ini memberi pengalaman saat akan menjalankan bisnis,” jelas Diana.
Membangun mindset entrepreneur sejak dini penting dilakukan sejak dini. Dengan begitu, tegas Diana, mahasiswa dapat belajar dari pengalaman UMKM yang nantinya membuat mereka menjadi entrepreneur sukses.
Dalam kunjungan ini mahasiswa dan dosen akuntansi melakukan kunjungan ke Kerajinan Batik Nurita berlokasi di Kabupaten Pasuruan. Owner Batik, Nurita Iza Rosdiany pembatik dari Desa Cangkringmalang, Kecamatan Beji, Kabupaten Pasuruan menyambut baik kunjungan ini.
Menurut Owner Kerajinan Batik Nurita, bukan hal mudah bagi perajin batik baru untuk bertahan di tengah persaingan antarsesama perajin. Tidak mudah juga bersaing dengan kain batik pabrikan yang harganya jauh lebih terjangkau.
“Ada ada tiga kunci utama kami pegang dalam mengembangkan bisnis ini yaitu kreativitas, digitalisasi dan sinergi. Dengan bekal unik dan khas, kami menonjolkan motif yang menjadi kekayaan alam setempat,” ujad Nurita.
Meski begitu, Nurita menyebut tidak alergi terhadap motif lain, dia lebih memilih flora, seperti krisan atau seruni (Chrysanthemum) dan sedap malam (Polianthes tuberosa), sebagai pilihan. Bahkan sistem perdagangan UMKM ini telah menerapkan sistem digitalisasi.

Produksi batik Nurita sudah terjual ke sejumlah daerah di Indonesia. Sedangkan pemasarannya fokus melalui penjualan online. Nurita mengatakan, sudah banyak usaha batik dengan berbagai motif khas yang ditawarkan. Pihkanya menilai bahwa tantangan pembatik saat ini ada pada pemasaran.
“Kreativitas meningkatkan nilai tambah produk. Digitalisasi membuat sistem pembayaran cepat, murah, aman dan andal. Sinergi dapat memperkuat model bisnis yang terintegrasi,” ujarnya menutup.
Dalam kunjungan ini mahasiswa akuntansi belajar membatik canting. Mereka melakukan tanya jawab terkait strategi bersaingnya, cara membangun ide atau desain kreatif untuk motif batik.
Mahasiswa akuntansi FEB Unisma juga mendapat ilmu tentang model marketing serta peranan Bank Indonesia sebagai mitra bisnis yang memberikan pembinaan. Acara kemudian berlanjut dengan Kunjungan ke Bank Indonesia dalam agenda outing class tentang kebanksentralan di Indonesia. [dan/aje]






