Surabaya (beritajatim.com) – Emil Elestianto Dardak menjadi pembicara pada sarasehan perkoperasian dalam rangka peringatan Hari Koperasi ke-77 Tahun 2024 di Hotel Selecta Batu.
Sarasehan yang diselenggarakan oleh Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin) itu mengangkat tema Menghadirkan Regulasi Berjati Diri Memantapkan Bisnis Koperasi Menuju Indonesia Emas.
Emil mengajak untuk menjaga serta meningkatkan produktivitas bonus demografi sebagai bentuk persiapan diri menghadapi megatren dunia di tahun 2045.
“Komposisi penduduk usia produktif yang besar merupakan sumberdaya produksi yang akan menggerakan perekonomian. Negeri ini akan mewujudkan Indonesia Emas pada tahun 2045 dengan memanfaatkan generasi produktif,” ujar Emil.
Emil menyampaikan beberapa karakteristik generasi muda Indonesia yang dapat menjadi keunggulan. Yaitu, melek teknologi, tertarik pada multimedia, handal menggunakan mesin pencari, rajin membuat konten digital, dan learning by doing.
“Skill dan kebiasaan yang dimiliki bonus demografi kita ini dapat mempengaruhi Indeks Pembangunan Pemuda (IPP) kita secara positif. Seperti dalam pendidikan, kesehatan dan kesejahteraan, lapangan pekerjaan, partisipasi dan kepemimpinan, hingga menekan diskriminasi dan kesenjangan gender,” paparnya.
Emil sendiri meyakini bahwa bonus demografi ini dapat menunjang keberlanjutan koperasi di Jawa Timur. Salah satunya melalui aspek-aspek digitalisasi dan modernisasi.
Pemuda usia produktif dapat turut berkontribusi dalam koperasi dengan meningkatkan literasi digital, sehingga koperasi lebih siap dalam mengadopsi teknologi informasi dan digital. Tujuannya, agar koperasi tak tergerus dengan sarana berbelanja lainnya yang memanfaatkan sistem online.
“Terjadi pergeseran pola konsumsi masyarakat dimana Generasi millenial dan Generasi Z melakukan research, mencari review dan membandingkan produk yang sejenis melalui sosial media. Koperasi yang seringkali beroperasi secara offline, tidak boleh ketinggalan dalam hal ini,” katanya.
Emil berpesan agar kondisi ini dapat dimanfaatkan sebaik mungkin dalam sektor-sektor yang membutuhkan percepatan digital. Hal ini karena kondisi dimana struktur penduduk didominasi oleh kalangan usia produktif hanya terjadi sekali dalam sejarah suatu bangsa. Indonesia sendiri mengalaminya di antara tahun 2020-2030.
Emil mencontohkan bahwa Jepang berhasil memanfaatkan bonus demografi ini di tahun 1950, begitu pun Korea Selatan di tahun 1970 dan Cina pada 1990.
“Jepang, Korea Selatan, dan Cina merupakan negara yang berhasil memanfaatkan bonus demografi mereka,” ujarnya.
Emil juga mendorong penguatan peran koperasi melalui penguatan regulasi, penguatan dukungan teknologi dan infrastruktur, peningkatan kapasitas dan literasi digital, memperbanyak kolaborasi dan kemitraan hingga memperkuat dukungan terhadap akses keuangan.
Sebelumnya Kementerian PPN/Bappenas RI telah merilis visi Indonesia 2045 yang salah satunya berisi megatren dunia 2045, isu penting seperti demografi global, urbanisasi dunia, emerging economies, perdagangan dan keuangan internasional, perubahan iklim dan geopolitik, teknologi, persaingan sumber daya alam hingga kelas menengah.
Turut hadir Sri Untari selaku Ketua Umum DEKOPIN, Rasiyo selaku Penasihat Dekopinwil Jatim, Subianto selaku Penasihat Dekopinwil Jatim, Buat Santoso, selaku Penasihat Dekopinwil Jatim, Slamet Sutanto selaku Ketua Dekopinwil Jatim, dan Nanang Abu Hamid selaku Kabid Lemwas Dikop Dan UKM Jatim. (tok)






