Malang (beritajatim.com) – Nilai mata uang Rupiah semakin anjlok tembus di angka Rp16.273 per Dolar USD. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengingatkan kondisi global pada semester II- 2024 masih dipenuhi oleh ketidakpastian. Hal itu dipicu oleh perubahan akibat pemilihan umum (Pemilu) di sejumlah negara, termasuk AS dan kondisi geopolitik yang masih tinggi.
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Malang, Nur Diana, SE., M.Si., menyebut bahwa ketidakpastian global memang harus diakui juga berimbas ke negara Indonesia. Oleh sebab itu, Indonesia harus mempersiapkan diri.
“Ada dua hal yang penting, pertama itu menyehatkan anggaran dan yang tidak kalah pentingnya adalah skala prioritas anggaran, untuk IKN dulu atau kah untuk kesejahteraan masyarakat dulu,” ujar Diana yang juga dekan FEB Unisma.
Dijelaskan perempuan alumni Sarjana Ekonomi (S-1) dari Universitas Brawijaya Malang ini bahwa negara tidak perlu mengeluarkan belanja yang tidak penting. Dengan begitu, masyarakat bisa tetap menjalani kehidupannya dan tidak menurunkan PDRB-nya. “Yang terpenting satu jangan sampai peluang pekerjaan itu harus tetap ada,” ujar Diana.
Dijelaskan Diana jika melihat dari berbagai dunia luar maka dapat dilihat adanya ketidakpastian yang tinggi di dalam ekonomi global. Oleh sebab itu, sebagai negara yang bekerja sama dengan berbagai negara lain, Indonesia juga terimbas, misalnya dari aspek perdagangan.
“Kalau andai kata kita biasa ekspor terus kemudian negara tujuan ekspor sudah enggak beli apa di sini bisa produksi? Nah tentunya yang perlu dikuatkan itu di Indonesia bagaimana daya beli masyarakat agar tetap ada dan mencintai produk Indonesia supaya minimal memperkuat ekonomi di dalam negeri,” jelas dosen yang punya spesifikasi keilmuan di Akuntansi Publik ini.
Menurutnya, masyarakat Indonesia harus cinta produk dalam negeri karena jika membeli barang dari luar dapat berefek pada kurs Rupiah ke Dolar. “Kita bisa lihat sekarang Rupiah ke Dolar sudah 16 hampir 17 ribu,” ujar Diana.
Selain itu, Diana menyoroti kondisi ketidakpastian di dalam negeri. Hal tersebut dapat dilihat dengan periode ketidakpastian presiden Indonesia yang belum dilantik.
“Apakah program-program presiden yang baru itu direspons secara good news oleh dunia luar. Terus kemudian Indonesia juga terbebani dengan membiayai IKN, sementara warganya sekarang, kita melihat berapa Gen Z yang sekarang itu tidak bekerja,” sorotnya dengan kritis.
Menurut dosen jebolan UGM ini, pihak yang punya pekerjaan rumah terutama menteri Menteri Keuangan. Menteri harus mampu menjalani transisi dengan baik mampu dan membaca sinyal ke depan.
“Turun naiknya rupiah itu disebabkan oleh adanya isu yang ada di dalam negara kita, itu pertama. Kedua, bisa jadi karena memang masyarakat suka membeli barang luar itulah yang menyebabkan kalau yang ditawarkan itu lebih sedikit dibandingkan permintaan otomatis kan Dolar naik,” katanya.
Diana menegaskan agar ada suatu kebijakan yang harus diciptakan oleh pemerintah Indonesia untuk menstabilkan kondisi. Apalagi saat ini muncul ketidakpercayaan dari beberapa lembaga kepada suatu bank milik pemerintah.
“Ini kan menjadikan kita menjadi semakin susah, banyak problematikanya. Oleh karena itu pemerintah sekarang harus menyehatkan Anggaran itu yang terpenting, dan yang terpenting itu adalah skala prioritas anggaran apa yang penting, IKN dulu atau kah untuk kesejahteraan masyarakat dulu,” tutupnya. (dan/ian)






