Malang (beritajatim.com) – Program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Universitas Islam Malang (Unisma) menyelenggarakan kuliah praktisi tentang inovasi jurnalistik. Acara ini menghadirkan Muhammad Afnani Alifian yang merupakan jurnalis di beritajatim.com.
Ketua prodi PBSI, Dr. Moh. Badrih, M.Pd., menjelaskan bahwa acara ini diadakan untuk membekali mahasiswa menjadi jurnalis dengan berbagai inovasi yang ada. Kuliah praktisi menjadi kegiatan dari hibah kampus Unisma.
“Kami harap mahasiswa bisa memaksimalkan kuliah praktisi ini karena yang dihadirkan adalah alumni PBSI Unisma yang sekarang berprofesi sebagai jurnalis. Semoga mahasiswa bisa meniru langkah Afnani atau Mas Dani saat lulus nanti, artinya bisa produktif sekaligus menjalani profesinya,” ujar Badrih, Sabtu (6/7/2024) di Hall Perpustakaan Unisma.
PIC kegiatan, Layli Hidayah, S.Pd., M.Pd. menjelaskan bahwa kuliah praktisi inovasi jurnalistik akan menghasilkan luaran berupa RPS, modul inovasi jurnalistik, dan sertifikat. Kuliah praktisi inovasi jurnalistik merupakan bagian dari program hibah kampus Unisma. “Hibah tersebut diberikan kepada setiap prodi. Tujuan hibah tersebut untuk pengembangan program studi yang ada di Unisma,” ungkap Layli.
Di sisi lain, Afnani sebagai pemateri menyampaikan tentang spektrum inovasi jurnalistik. Innovation Journalism atau jurnalisme inovasi adalah integrasi penggunaan teknologi digital dan penggunaan jurnalistik terhadap inovasi dengan berbagai lintas disiplin ilmu untuk kemajuan bidang jurnalistik.
“Inovasi dalam bidang jurnalistik membuat tuntutan yang lebih luas terhadap para jurnalis, mereka dituntut untuk tidak hanya bisa menulis tetapi mampu memanfaatkan inovasi yang ada, terutama dengan spektrum penuh pengaruh yang ditimbulkan oleh inovasi maka ilmu ‘jurnalistik’ saja tidak memadai,” kata jurnalis pendidikan beritajatim.com wilayah Malang ini.
Inovasi jurnalistik dapat terjadi dalam berbagai bentuk, misalnya tiga yang paling banyak digunakan, yaitu jurnalisme data, deepfake, dan metodologi inovatif. Jurnalisme data, jika mengacu pada Redaksi online The Guardian yang memperkenalkan jurnalisme data pada tahun 2010 saat mereka mengolah dokumen rahasia tentang Perang Afghanistan.

“Jurnalisme data adalah cara jurnalis dalam menggunakan pendekatan interdisiplin yang menggabungkan jurnalisme, statistik, desain grafis, dan komputer. Sementara itu, deepfake adalah upaya jurnalis dalam jurnalisme online untuk dapat membuat pembaca dapat terus membaca atau memperkaya cerita dengan mendalami video, cuplikan suara, dan alat interaktif,” jelas Dani, sapannya.
Deepfake, kata Dani, dapat membuat membaca di layar ponsel menjadi lebih mudah. Sementara itu, metodologi inovatif adalah pendekatan metodologis inovatif dapat mencakup pengalaman, motivasi, dan emosi dari praktisi bercerita.
“Pendekatan metodologi inovatif dapat membantu mencari cara yang paling efisien dan ramah penonton untuk menyampaikan berita dan informasi,” katanya menutup. (dan/kun)






