Surabaya (beritajatim.com) – Sejarawan Universitas Negeri Surabaya (Unesa) dan peneliti asal Jepang menelusuri jejak pemandian bidadari untuk mengintegrasikan warisan budaya.
Sejarawan Unesa itu adalah Prof Nasution. Sedangkan peneliti asal Jepang yakni Dr Nozawa Akiko dari Nagoya University. Keduanya bekerjasama untuk meneliti tempat pemandian bidadari di Indonesia dan Jepang.
Prof Nasution mengatakan, proyek penelitian ini berjudul ‘Constructing Integrated Archive of Hindu-Javanese Cultural Heritage: Visualizing the Correlations in Representations of Celestial Nymph (bidadari) Tales’.
“Fokus dari penelitian ini yaitu integrasi digital arsip sejarah tentang tempat pemandian bidadari di Jepang dan Indonesia,” kata Prof Nasution, Jumat (5/7/2024).
Hasil penelitian tersebut menjadi dasar pengembangan arsip digital dalam bentuk website yang mengintegrasikan warisan budaya (berwujud dan tak berwujud) era Hindu-Jawa terkait bidadari.
“Pertemuan bahas proyek penelitian tempat pemandian bidadari yang akan dijadikan bahan pengembangan website sebagai arsip terpadu warisan budaya,” jelasnya.
Ia menyebut, website ini termasuk Google My Map terkait bidadari. Proyek ini akan memvisualisasikan hubungan budaya kisah bidadari di Asia melalui produksi website dalam tiga bahasa, yakni Jepang, Inggris, dan Indonesia.
“Survei dan mapping situs bidadari di Jepang sudah dilakukan dan dibuat versi Jepang. Sementara survei situs bidadari di Jawa Timur dilakukan tim kami (Unesa),” bebernya.
Adapun tugas pakar atau dosen Unesa yaitu meneliti tempat yang berkaitan dengan legenda bidadari yang ada di Jawa Timur. Ada sekitar 15-20 tempat yang disurvei, ada air terjun, telaga, dan lain-lain.
“Legenda tujuh bidadari yang mandi pada zaman dulu oleh orang lokal itulah yang kami teliti. Nanti itu akan menjadi simpul-simpul kisah bidadari di Asia,” ucapnya.
Bagi Prof Nasution, penelitian ini penting tidak hanya bagi pengembangan ilmu sejarah dan penelusuran legenda zaman dulu, tetapi juga kaitannya dengan edukasi sejarah bagi masyarakat.
Dengan begitu, cerita tentang pemandian bidadari di Indonesia bisa terdokumentasi dengan baik secara digital, sehingga memudahkan bagi generasi berikutnya. [ipl/ian]






