Lamongan (beritajatim.com) – Memasuki musim kemarau, para petani di Dusun Trongglonggong, Desa Sumberagung, Kecamatan Modo, Lamongan mulai menamam tembakau. Jenis tembakau yang ditanam para petani di desa setempat cukup beragam. Mulai dari tembakau jenis paiton atau T, Coker hingga jenis CK.
Namun pada musim tanam kali ini, petani di Modo dibalut kekhawatiran. Salah satu penyebabnya adalah sulitnya mendapatkan pupuk.
Menurut salah satu petani Desa Sumberagung, Pones, pada awal tanam tembakau seperti saat ini, biasanya para petani memberikan dasaran pupuk NPK dan Fertilla. “Kendala saat ini pupuk. Biasanya petani kalau awal tanam seperti ini kan dikasih dasaran NPK dan Fertilla. Nah sekarang petani kesusahan mencari Fertilla itu,” ujar Pones, Jumat (5/7/2024).
Menurut Pones, kondisi tersebut membuat para petani terpaksa mengganti Fertilla dengan pupuk lain, meskipun hasilnya tidak sebaik ketika menggunakan pupuk Fertilla. “Ya sekarang terpaksa pakai Phonska. Meskipun katanya untuk jangka panjang tidak baik, tapi ya mau gimana. Sebenarnya harus ada campuran Fertilla itu,” tuturnya.
Selain kendala pupuk, faktor cuaca yang tak menentu pun turut membuat khawatir para petani. Meski saat ini telah memasuki musim kemarau, namun beberapa kali masih turun hujan. “Teman-teman petani ada kekhawatiran, karena kemarau tahun ini kan katanya kemarau basah, tetap ada hujan,” katanya.
Pones mengungkapkan, sebenarnya curah hujan pada awal pertumbuhan tetap dibutuhkan. Namun apabila curah hujan berlebih, maka menyebabkan akar tanaman busuk dan berakibat kematian tanaman tembakau. “Ya semoga saja saat petani nanam, lancar saja, ndak ada hujan. Meskipun hujan ya harapannya ndak seberapa deras,” ucapnya. (fak/kun)






