Blitar (beritajatim.com) – Seorang siswa SMA di Blitar nekat mengakhiri hidup usai HPnya disita oleh pihak orang tua. Diduga siswa dari Kecamatan Doko Kabupaten Blitar itu depresi karena tak bisa lagi bermain game online.
Sang orang tua menjelaskan bahwa anaknya memang kecanduan game online. Bahkan, sebelum mengakhiri hidup sang anak sempat mengurung diri di kamar hanya demi bermain game online.
Peristiwa memilukan ini pun harus jadi pelajaran bersama utamanya bagi orang tua. Psikolog Blitar, Elma Pratika pun memberikan sejumlah saran agar peristiwa ini tidak terulang kembali.
Menurut Elma, tidak mungkin anak berbuat nekat hanya karena alasan HP. Dibalik peristiwa itu pasti ada kekecewaan mendalam yang dialami oleh sang anak hingga akhirnya ia memutuskan berbuat nekat.
“Saya rasa tidak mungkin hanya karena ponsel disita orang tuanya, lalu pelajar itu bunuh diri. Ini ada faktor lain yang menuntun dirinya dan beranggapan bahwa lingkungan sosialnya itu negatif,” kata Psikolog asal Kanigoro, Elma Prastika.
Belajar dari beberapa kasus, menurut Elma peristiwa ini terjadi karena beberapa hal. Namun kebanyakan faktor utama yang mendorong anak berbuat nekat adalah karena permasalahan yang terjadi di lingkungan keluarga atau teman.
“Korban tidak akan berani bunuh diri jika tidak pernah dikecewakan seseorang,” sambungnya.
Melihat kasus siswa SMA tersebut, Psikolog muda itu pun memberikan saran kepada orang tua agar bisa membangun komunikasi yang intens dan baik dengan anak. Terjalinnya komunikasi yang baik tentu bisa mencegah terjadi kesalahpahaman antara anak dan orang tua yang berujung depresi.
Kedekatan dengan anak juga harus dibangun orang tua. Hal ini bertujuan agar orang tua bisa memahami minat dan bakat anak, sehingga tidak terjadi kesalahpahaman yang berujung pada pertengkaran dan berimbas buruk kepada hubungan keduanya.
“Kedekatan orang tua dan anak itu penting agar anak lebih terbuka dan bisa menceritakan permasalahannya. Dengan cara ini, beban yang ditanggung anak itu bisa berkurang,” imbuhnya.
Dalam kasus tersebut, Elma memandang bisa jadi game online adalah tempat dari korban mencari solusi atas permasalahan-permasalahan yang dihadapinya. Lambat laun, kebiasaan itu memicu kecanduan bermain ponsel. Dampaknya, anak kurang bersosialisasi dan cenderung bermain game online.
Sehingga korban merasa depresi saat kehilangan ponselnya yang selama ini dianggapnya sebagai media pelampiasan atas berbagai permasalahan.
“Kami berharap kejadian bunuh diri tidak lagi terulang. Saya minta orang tua bisa lebih dekat dengan anak. Sehingga mengetahui permasalahan dan kehidupan yang dilalui anak. Dengan pengawasan secara intens, hal tersebut bisa terhindar,” tutup Elma. [owi/aje]






