Jember (beritajatim.com) – Sebelum direnovasi, ada kurang lebih 250 pedagang kaki lima yang berjualan di alun-alun Kabupaten Jember, Jawa Timur. Saat ini alun-alun tengah direnovasi dengan biaya puluhan miliar rupiah. Bagaimana nasib mereka setelah renovasi selesai?
“Selama tiga berjalan, mulai 2021 sampai sekarang, PKL dan UMKM dimanjakan. Sampai hari ini tidak ada kebijakan apapun terkait pengusiran,” kata Bupati Hendy Siswanto, Rabu (12/6/2024).
Justru PKL masih bebas menggunakan trotoar untuk berjualan. “Hanya di bagian tertentu Jalan Gajah Mada yang tidak diperkenankan sebagai lokasi berjualan untuk jam tertentu,” kata Hendy.
Hendy punya alasan untuk membebaskan PKL berdagang di trotoar. “Kita sadari bahwa ekonomi belum stabil,” katanya.
Namun, Hendy tetap melakukan sejumlah perbaikan secara bertahap. “Perbaikan itu harus meningkatkan yang lain. Kalau alun-alun lebih bagus, tentunya PKL harus lebih bagus lagi. PKL maupun UMKM pasti harus naik kelas dalam hal pelayanan. Kalau alun-alun bagus, masa buka tenda lagi di situ?” katanya.
Pemerintah Kabupaten Jember akan menyediakan semacam manajemen untuk mengatur PKL di alun-alun. “Tidak semua bisa masuk rame-rame jualan di situ. Nanti alun-alun berantakan. Fungsi alun-alun kita maksimalkan, UMKM tetap kita fasilitasi, PKL pun akan kita fasilitasi. Tapi tidak di alun-alun tentunya,” kata Hendy.
Menurut Hendy, esensi PKL dan UMKM sama. “Alun-alun ditutup (karena renovasi), mereka bisa berjualan di Jalan Kartini. Begitu alun-alun bagus, tidak mungkin dong buka tenda biru di sana. Ini investasi besar dan mendatangkan wisatawan, yang toh mencari PKL juga. Ini kita perbaiki dengan sistem yang lebih bagus lagi,” katanya.
PKL yang berjualan di alun-alun tidak boleh menetap. “Mereka pakai gerobak dan harus mobile. Tidak boleh menunggu seharian. Mereka harus keluar-masuk, datang. Gerobaknya tidak boleh ditinggal dan tidak boleg pasang tenda,” kata Hendy.
Dengan sistem berjualan seperti ini, Hendy tidak akan menetapkan pembatasan jam berdagang. “Justru kami buka dari pagi sampai pagi lagi. Tapi mereka tidak boleh stop, berhenti, berjejer. Kami akan atur jumlahnya, kita atur bergantian. Kita bikin shift-shiftan. Jumlahnya berkurang dan bergantian,” katanya.
Selain itu, Pemkab Jember membuka Jalan Samanhudi dan Jalan Kartini sebagai lokasi berdagang. “Itu pun sebagian. Kami akan rapikan,” kata Hendy. [wir]






