Banyuwangi (beritajatim.com) – Ribuan tumpeng meramaikan tradisi adat Suku Osing di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi. Makanan tradisional berisi nasi, lauk pauk, dan ayam ala warga itu tampak berjajar di sepanjang jalan desa.
Ritual warga itu telah mengakar dan turun menurun bernama Tumpeng Sewu. Menjadi salah satu bentuk ritual penyambung silaturahmi dan wujud syukur warga setempat sebagai bagian dari warisan adat leluhur.
Tumpeng Sewu biasa digelar sepekan sebelum hari raya Iduladha, sebagai bagian yang tak terpisahkan dari acara adat Suku Asli Banyuwangi. Disebut tumpeng Sewu lantaran jumlahnya yang cukup banyak dan disajikan di sepanjang jalan. Sehingga warga setempat lazimnya menyebut seribu tumpeng atau Tumpeng Sewu.
Ritual ini mulai digelar usai Maghrib atau sekitar Pukul 18.00 WIB. Tempatnya adalah sepanjang jalan desa, sehingga saat kegiatan berlangsung jalur dua arah menuju Desa Kemiren ditutup total.
Jikapun terpaksa, warga yang melintas harus berjalan kaki atau menunggu ritual selesai demi menghormati acara. Untung-untung jika ikut dalam tradisi, mereka akan ketiban berkah.
Berkahnya, warga akan mendapatkan bagian makanan tumpeng yang disajikan. Berupa, nasi dengan lauk pauk khas dan sajian ayam bernama pecel pithik.
Pecel pitik merupakan hidangan ayam kampung panggang dan parutan kelapa dengan bumbu khas Osing. Menu ini wajib ada dalam setiap tumpeng.
Semua orang duduk dengan tertib bersila di atas tikar mau pun karpet yang tergelar di depan rumah. Selama jalannya acara, penerangan di lokasi hanya menggunakan temaram api obor.
Ricky Levaue, wistawan asal Perancis mengaku sangat berkesan melihat semangat warga gotong royong menyiapkan selamatan tersebut.
“I’m amazed. Saya tidak pernah menemukan kebersamaan seperti ini di negara negara lain yang pernah saya kunjungi. Ini sungguh menyenangkan,” kata Ricky.
Suasana guyub dan kebersamaan terasa meskipun saat banyak di antara mereka yang baru pertama kali bertemu. Mereka hanyut dengan suasana yang penuh kebersamaan dan kesenangan.
“Aroma lezatnya menggugah selera. Lebih nikmat karena menyantap bersama warga di samping temaram cahaya obor,” kata Muntaha, wisatawan asal Solo.
Sebelum tradisi menyantap tumpeng, iring-iringan barong cilik dan barong lancing melintasi jalan desa dan melakukan Ider Bumi. Barong diarak dari dua sisi timur dan barat, lalu bertemu di titik utama di depan Balai Desa Kemiren.
“Ini merupakan wujud syukur kami kepada Tuhan, dan doa agar kami selalu diberi keselamatan dan dihindari dari bala,” tutur Kepala Desa Kemiren, Muhammad Arifin.
Setelah itu, warga diajak berdoa bersama agar desanya dijauhkan dari segala bencana dan sumber penyakit. [rin/but]






