Malang (beritajatim.com) – Dua mahasiswa Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang) meraih best speaker pada ajang Lomba Karya Tulis Ilmiah Nasional (LKTI) Mahasiswa Avicenna 2024. Mereka mendapat predikat itu setelah membuat ‘Alpukat’ atau alat pengukur kualitas getah karet.
LKTI ini berlangsung di Universitas Muhammadiyah pada Mei 2024 lalu. Adapun dua mahasiswa yang meraihnya, yaitu Muhammad Al-fin Faiz (2212037), dan Muhammad Idi Jurdan (2312046) dari Teknik Elektro S-1 ITN Malang.
Dua mahasiswa ITN mendapat tantangan untuk memberikan ide kreatif terkait ‘Inovasi Generasi Zillenial dalam Mewujudkan Generasi Emas 2045’. Terdapat 5 subtema yang dilombakan, yaitu sosial, pendidikan, kesehatan, teknologi, dan ekonomi.
“Kami mengambil sub tema teknologi sesuai dengan jurusan kuliah kami di teknik elektro,” ujar Muhammad Al-fin Faiz yang akrab disapa Alfin lewat keterangan tertulis Jumat (7/6/2024).
Kedua di bimbing dosen Teknik Elektro ITN Malang, Alfarid Hendro Yuwono , SsT., MT. Mereka masuk final setelah lolos seleksi full paper yang diumumkan pada April 2024.
Alfin dan Jojo sapaan dari Muhammad Idi Jurdan, merupakan mahasiswa asal Kalimantan Selatan, yang merupakan salah satu provinsi penghasil karet. Getah karet diperoleh dari hasil menyadap pohon para atau pohon karet.
Menurut Alfin, Jojo dan keluarganya juga merupakan penyadap getah karet. Dari pengalaman Jojo getah karet yang dijual ke pengepul belum mengalami proses pengeringan.
“Jauhnya jarak lokasi petani ke pabrik membuat petani memilih menjual getah karet ke pengepul.
Sedangkan di pihak pengepul juga tidak melakukan pengukuran kekeringan karet dengan benar,” kisah Alfin kepada Beritajatim.com.
Pengepul hanya menerka kadar kekeringan karet (KKK) dan memeriksa bagian dalam getah karet. Hal ini disebabkan tidak semua pengepul memiliki alat untuk mengukur KKK, seperti alat ukur TK-100 untuk mengukur kadar air.
“Sebenarnya di pasaran sudah banyak alat ukur KKK atau TK-100. Tapi harganya cukup mahal, jadi tidak semua pengemul mau membeli. Padahal salah satu penentu kualitas karet adalah kadar airnya. Karet yang basah harganya murah,” ucapnya.
Melihat masalah ini, mahasiswa ITN Malang ini membuat alat portable untuk mengukur kualitas karet dengan harga jauh lebih murah dari TK-100. Alat yang diberi nama Alpukat (alat pengukur kualitas getah karet) ini lebih ramah.
“Alat ini dapat untuk mengukur KKK dan untuk menghitung sekaligus menampilkan harga beli berdasarkan KKK yang sudah di ukur. Biaya pembuatan relatif lebih murah. Alpukat diharapkan dapat memberi kontribusi positif dalam meningkatkan penjualan getah karet,” lanjut Alfin.
LKTI tidak mewajibkan peserta membuat prototipe. Namun Alfin dan Jojo tetap melanjutkan penelitian sampai menghasilkan alat. Menurut Alfin, dengan adanya prototipe maka penelitiannya semakin lengkap.
“Kami melakukan kalibrasi pada alat yang sudah ada agar sesuai standar. Kalibrasi adalah proses menentukan standar pengukuran agar akurat dan valid,” ujar Jojo.
Menurutnya hal yang sulit kalibrasinya. Ada ratusan data yang harus kami masukkan. Dengan adanya Alpukat ini saat presentasi kami bisa menjelaskan lebih detail.
“ Kalau tidak ada prototipe berarti penelitian kami hanya sekedar ide,” kata Alfian yang berencana mengembangkan penelitian tersebut.
Sebagai informasi, terdapat 10 perguruan tinggi yang masuk final. ITN Malang meraih best speaker, Universitas Airlangga juara 1, Universitas Siliwangi juara 2, Universitas Negeri Sebelas Maret juara 3. Juga masuk final Universitas Brawijaya, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Universitas Negeri Semarang, Universitas Jember, Universitas Mataram, dan Universitas Siliwangi. (dan/ian)






