Jember (beritajatim.com) – PT Sinergi Gula Nusantara menargetkan produksi gula mendekati satu juta ton gula tahun ini. Namun ada sejumlah tantangan yang harus dihadapi untuk berswasembada gula.
Dari 36 pabrik gula yang dinaungi PT SGN, akan beroperasi 32 unit yang bisa mengolah 18 juta ton tebu. “Tapi kami targetkan mengolah 13 juta ton tebu yang akan memproduksi gula mendekati 1 juta ton,” kata Direktur Utama PT Sinergi Gula Nusantara Mahmudi, saat ditemui di Universitas Jember, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Senin (3/6/2024).
Mahmudi menyebut ada tantangan yang dihadapi swasembada gula. Peningkatan produktivitas perlu dilakukan untuk 60 ribu hektare areal hak guna usaha. Saat ini produktivitas gula nasional lima ton per hektare. “Setidaknya kita menuju tahap awal delapan ton,” katanya.
PT SGN mengelola 120 ribu hektare tebu rakyat. “Dengan produktivitas 8 ton gula dengan rendemen 8 persen, berarti kapasitas kami akan terpenuhi dan kami pun akan bisa beroperasi dari 36 pabrik yang ada,” kata Mahmudi.
Dengan kebutuhan 3,2 juta ton gula swasembada dan areal tebu di Indonesia 500 ribu hektare, produksinya saat ini sekitar 2,5 juta ton gula. “Kalau tertekan El Nino kemarin jadi 2,2 juta ton. Kalau ini kita tingkatkan dengan ekstensifikasi dari 5 ton menjadi 8 ton per hektare, (produksi gula nasional) menjadi 4 juta ton,” kata Mahmudi.
Namun setiap tahun, pabrik gula harus melakukan bongkar ratoon setidaknya 25 persen selama tiga tahun. “Kami bersama kementerian dan lembaga, akan berusaha bagaimana program bongkar ratoon bisa kami lakukan intensif di tebu rakyat, agar peningkatan produktivitas tercapai,” kata Mahmudi.
Di sinilah, lanjut Mahmudi, pemerintah berperan memberikan subsidi bibit. “Ini harus segera kita lakukan, karena kuncinya di situ untuk meremajakan areal tebu,” katanya.
Jawa Timur memegang peran penting, karena 70 persen produksi gula grup PT Perkebunan Nusantara berada di Jatim. Sementara 35 persen produksi nasional dipasok oleh grup PT Perkebunan Nusantara.
“Kalau kita lihat performa pabrik kita di Jawa Timur, overall sih tidak ada isu sebenarnya. Memang ada program kami untuk melakukan pemantapan mulai 2024 untuk bisa memenuhi kapasitas pabrik kita, untuk mengolah dengan harapan muncul rendemen yang terus ber-progress,” kata Mahmudi.
Isu utama industri gula tetap pada ketersediaan bahan baku tebu dan tingkat kemasakannya. “Selama ini tebu yang masak awal ini di angka 10-15 persen. Padahal seharusnya 30-40 persen. Di awal-awal giling, sebenarnya kita saat ini sebagian besar mengolah masak akhir. Ini harus kita tata. Jadi selain bongkar ratoon, menata varietas perlu dilakukan untuk menuju swasembada,” kata Mahmudi.
Tantangan berikutnya adalah iklim. “Memang ada ramalan, kita akan memasuki musim La Nina. Ini tantangan tersendiri. Mudah-mudahan bisa kami coba atur antara jadwal giling dengan kemudahan mengakses bahan baku tebu di lapangan tidak ada isu. Ini sudah kami persiapkan, dan jadwal giling kami memang mempertimbangkan dari tingkat kemasakan tebu HGU maupun tebu rakyat, dan prediksi La Nina,” kata Mahmudi.
Penggilingan perdana sudah digelar di Pabrik Gula Asembagus Situbondo pada 18 Mei 2024. “Sampai saat ini sudah 16 pabrik gula di Jawa yang sudah buka giling tebu. Di luar Jawa, saat ini kita (menggiling) di Cinta Manis,” kata Mahmudi. [wir]






