Lamongan (beritajatim.com) – Lomba Nembang Macapat Bupati Cup yang digelar di Aula Gajah Mada lantai 7, Pemkab Lamongan, menjadi sebuah langkah positif dalam memperkuat jati diri bangsa Indonesia, khususnya jati diri masyarakat Jawa. Hal ini ditegaskan oleh Bupati Lamongan, Yuhronur Efendi.
Menurut Bupati Yuhronur, budaya yang diwariskan oleh nenek moyang patut dilestarikan di tengah pesatnya perkembangan teknologi yang dapat mengubah peradaban. “Kecanggihan teknologi harus diikuti oleh kekuatan dalam melestarikan budaya. Jangan sampai kita lupa akan jati diri, jati diri Jawa, dan jati diri Indonesia akibat gempuran teknologi,” ujarnya.
Meskipun baru pertama kali diadakan, Bupati Yuhronur sangat mengapresiasi kegiatan yang diinisiasi oleh Paguyuban Wilwatikta bersama Paguyuban Permadani ini. Lomba ini dinilai mampu menarik minat lintas generasi dari berbagai daerah untuk nguri-uri kabudayan.
“Saya senang, bangga, dan bahagia bisa ikut bersama-sama dalam lomba nembang macapat ini. Insya Allah ini bisa menjadi agenda tahunan di Kabupaten Lamongan,” tambahnya.
Lomba adu tarik suara tembang Jawa ini diikuti oleh 55 peserta yang berasal dari berbagai daerah, seperti Lamongan, Mojokerto, Jombang, Blitar, Surabaya, Sidoarjo, dan Blora.
“Selamat datang para peserta dari luar daerah. Semoga kedatangannya berkesan dan bisa menikmati kuliner khas Lamongan seperti nasi boran, soto, dan pecel lele yang pasti enak,” papar Bupati Yuhronur.

Sementara itu, Ketua Panitia Lomba Nembang Macapat Bupati Cup, Kiai Tarto, menjelaskan bahwa lirik-lirik tembang dalam perlombaan ini merupakan garapan asli PB Wilwatikta. Para peserta dapat melantunkan dua tembang, yaitu tembang wajib dan tembang pilihan.
“Lirik tembang yang ditentukan panitia penyelenggara ini merupakan hasil karya sendiri dari Paguyuban Wilwatikta, baik tembang wajib maupun tembang pilihan, dan semuanya sudah tertera dalam juknis yang tersebar,” pungkasnya.
Upaya Pelestarian Budaya:
Lomba Nembang Macapat Bupati Cup merupakan salah satu contoh upaya pelestarian budaya di era modern. Kegiatan ini diharapkan dapat menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap budaya Jawa dan memperkuat jati diri bangsa Indonesia.






