Surabaya (beritajatim.com) – Maraknya kasus Demam Berdarah Dangue (DBD) pada anak yang belakangan terjadi, membuat para orang tua perlu waspada dan berhati-hati. Adapun untuk mengetahui apakah anak mengalami DBD, perlu diketahui terlebih dahulu terkait gejala dan juga penangannya.
Dilansir Beritajatim.com dari kanal YouTube Nasional Hospital, dr. Marlyn Cecilia Malonda, Sp.A. menyebutkan bahwa penyebab DBD dikarenakan adanya infeksi virus dangue yang dibawa oleh nyamuk aedes aegypti, Kamis (30/5/2024). Di mana nyamuk jenis ini biasanya menggigit pada waktu pagi ke siang hari, sekitar pukul 9.00-11.00.
Dokter spesialis anak tersebut menjelaskan bahwa, penderita DBD awalnya akan merasakan beberapa gejala, di mana salah satunya yakni demam tinggi yang terjadi secara mendadak.
“Jika anak tiba-tiba mengalami demam tinggi dan mendadak, orang tua perlu waspada. Kedua, biasanya juga disertai dengan muntah serta ada sedikit gejala pecernaan seperti diare,” ujarnya.
Adapun untuk anak-anak yang lebih besar, biasanya juga mengeluhkan sakit kepala dan pusing. Sehingga jika timbul gejala tersebut, para orang tua bisa segera memeriksakan anak, untuk mengetahui kemungkinan terjadinya DBD.
“Intinya jika klasifikasi klinisnya DBD dan trombosit di bawah 150.000 atau bahkan 100.000, maka perlu segera dirawat. Terlebih jika disertai penurunan nafsu makan,” imbuhnya.
Gejala demam berdarah yang berat dapat juga menyebabkan komplikasi berupa perdarahan yang hebat dan bahkan kematian. Tak ayal jika anak-anak yang alami gejala DBD perlu penanganan segera.
Menurut Marlyn, penanganan awal yang bisa dilakukan orang tua ialah dengan cara pemberian cairan tubuh yang cukup. Karena kurangnya cairan tubuh pada penderita DBD dapat meningkatkan kekentalan darah, yang dapat menyebabkan kondisi shock pada anak dan komplikasi.
Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan tersebut, maka perlunya melakukan langkah pencegahan. Mulai dari melakukan langkah 3M (Menguras, Menutup, dan Mengubur).
Menguras bak mandi, tandon air, atau sejenisnya secara rutin, menutup apa pun yang dapat berpotensi sebagai sarang nyamuk, hingga mengubur sampah dan barang-barang yang tidak diperlukan.
“Sedangkan untuk anak bisa digunakan baju berlengan panjang agar tidak digigit nyamuk. Kedua, menggunakan kelambu atau tirai agar nyamuk tidak bisa masuk. Jika anak sudah di atas dua tahun bisa menggunakan insect repellent,” ujarnya. (fyi/ian)






