Surabaya (beritajatim.com) – Irawati Ningsih, seorang bidan di Desa Socah, Bangkalan, Madura ini berhasil menerapkan inovasi pijat tuina untuk mengatasi persoalan stunting di wilayah setempat.
Irawati merupakan salah satu mahasiswi kebidanan UNUSA yang dilantik dan diambil sumpahnya pada Selasa (21/5/2024) siang. Ia sukses menciptakan metode yang efektif untuk diterapkan di desa terkait penanganan stunting.
Irawati mengungkapkan, mulanya ia tergerak untuk mengangkat permasalahan stunting menjadi penelitiannya. Apalagi, sejak dirinya menjadi bidan di Socah, persoalan kurang gizi pada balita tersebut kerap sekali ia jumpai.
“Sehingga, tercetuslah pijat tuina ini sebagai salah satu solusi, dan Alhamdulillah hasilnya berdampak bagus,” ungkap Irawati, Selasa (21/5/2024).
Ia menjelaskan, pijat tuina merupakan teknik pijat yang digunakan menangani penurunan nafsu makan pada bayi dan anak. Irawati mengadaptasi teknik ini untuk membantu memperbaiki asupan gizi pada anak-anak melalui stimulasi tubuh.
Untuk mengetahui keberhasilan yang signifikan, perempuan kelahiran 20 Januari 1991 itu menerapkan inovasinya selama enam bulan di Puskesmas tempatnya bekerja.
“Pijat tuina saya lakukan setiap hari dengan metode pengecekan tinggi dan berat badan setiap dua minggu sekali. Pemantauan ini dilakukan enam bulan dan hasilnya cukup bagus, bayi dan anak-anak jadi lahap makan dan berat badan naik,” ujarnya.

Melihat keberhasilan tersebut, Irawati mendapat dukungan Dinas Kesehatan Jatim dan Dinas Kesehatan Bangkalan untuk menjadikan pijat tuina sebagai inovasi keberhasilan, hingga akhirnya diterapkan di beberapa Puskesmas di Bangkalan.
Selain itu, penerapan ini juga berkolaborasi dengan para perangkat desa serta komunitas ibu-ibu PKK untuk mengumpulkan para balita dan anak-anak.
“Alhamdulillah yang awalnya saya hanya menjadikan ini sebagai penelitian studi, akhirnya didukung penuh beberapa pihak, bahkan dinas kesehatan juga memfasilitasi posyandu rutin di beberapa Puskesmas di Bangkalan sebagai upaya pencegahan stunting juga,” ucapnya.
Menjadi bidan profesional merupakan cita-cita Irawati sejak dulu, itu juga yang menjadi motivasinya untuk melanjutkan studi Profesi Bidan di Unusa. Irawati juga telah membuka praktek sendiri di rumahnya sebagai bentuk dedikasi penuh kepada warga sekitar tempat tinggalnya.
“Saya sudah menjadi bidan sejak 2009, tetapi hanya lulusan D3. Kemudian tuntutan bidan saat ini setidaknya harus S1, dan akhirnya saya terdorong lanjut studi hingga profesi, selain itu juga ingin meng-update ilmu baru,” ceritanya.
Ke depan, dirinya ingin fokus menjadi bidan profesional, bekerja di Puskesmas dan tetap membuka praktek sendiri di rumah untuk membantu masyarakat agar tidak perlu jauh-jauh ke Puskesmas. [ipl/ian]






