Banyuwangi (beritajatim.com) – Sundarianto adalah pendiri sekaligus penggerak Komunitas Pemuda Etan Gladak Anyar (PEGA) Indonesia yang merawat lingkungan di Desa Siliragung, Kecamatan Siliragung, Kabupaten Banyuwangi.
Komunitasnya dibentuk karena kegalauan melihat kotornya sungai dengan sampah. Tidak memikirkan keuntungan apapun dari pengolahan sampah, Sundarianto dan kawan-kawan mulai belajar cara memakai larva lalat tentara hitam (maggot) untuk mengurai sampah organik.
Sundarianto bekerja sama dengan PT Bumi Suksesindo, sebuah perusahaan tambang emas yang beroperasi di Banyuwangi. Setiap pekan, dua dan kawan-kawan mengolah kurang lebih tiga ton sampah organik.
Ada lima produk yang bisa diperoleh dari pengolahan sampah organik ini, yakni maggot fresh untuk pakan ikan dan unggas, maggot kering untuk pakan hewan hias, pupuk padat untuk tanaman, pupuk cair untuk dekomposer dan mengurangi amoniak lingkungan, dan insektisida organik untuk mengusir hama tanaman. Semuanya berbahan baku sampah yang berasal dari PT BSI dan warga sekitar.
Sukses pengolahan sampah oleh PEGA ini menarik perhatian luar negeri. Pemerintah Norwegia dan lembaga swadaya masyarakat yang memiliki program Clean Ocean Through Clean Communities (CLOCC). Kini Sundarianto terus berusaha mengembangkan usahanya agar bisa diterima masyarakat lebih luas.(ted)






