Malang (beritajatim.com) – Yayasan Sosial Hakka Malang memberikan apresiasi kepada Pondok Pesantren Nurul Jadid Probolinggo, Jawa Timur. Yayasan tersebut menilai Nurul Jadid sebagai pesantren yang menjunjung tinggi toleransi.
Penghargaan tersebut diberikan bersamaan dengan kunjungan sejumlah pengurus Yayasan Hakka Malang untuk berbagi kebahagiaan dengan para santri dan santriwati Ponpes Nurul Jadid. Rombongan yang dipimpin Ketua Pembina Yayasan Hakka Malang, Widodo Laksono tersebut disambut beberapa pengasuh Ponpes Nurul Jadid, di antaranya Kepala Pesantren KH Abdul Hamid Wahid, Sekretaris Pesantren H. Tahiruddinn, serta pimpinan satuan kerja maupun satuan pendidikan.
Widodo mengaku tertegun saat menyaksikan kepiawaian santri dalam berbahasa Mandarin secara langsung,
“Saya senang santri bisa berbahasa Mandarin,” ujar Widodo.
Dia menyoroti keberadaan Bahasa Mandarin yang kurang mendapatkan perhatian oleh pemuda hari ini. Bahkan, di kampus tertentu, saat ada orang berbahasa China, maka orang itu di-China-Chinakan.

“Berbeda ketika berbahasa Inggris, ia dianggap biasa saja,” ungkapnya saat sambutan.
Hal yang membuatnya senang karena bisa berkenalan dengan Ponpes Nurul Jadid ini. Ia berharap bahwa pertemuan ini suatu saat nanti terus dapat menjalin kerjasama.
Sementara itu, Kiai Hamid dalam sambutannya menyampaikan, Ponpes Nurul Jadid membuka ruang seluas-luasnya untuk belajar dan berbagi. Terutama dengan Yayasan Sosial Hakka Malang.
“Semoga bagi pesantren kita bisa saling belajar, saling menimba ilmu, wawasan dan pengalaman. Saya yakin bapak ibu telah makan asam garam kehidupan di profesinya masing-masing,” ungkap Kiai Hami.
Ia menjabarkan pola giat santri selama di pesantren. Dimulai dari tidur yang kata beliau seperti camping setiap hari sampai kurikulum integrasi antara pesantren-sekolah.
“Semoga ini bukan kunjungan pertama dan terakhir, harapnya hubungan kerja sama dan silaturahmi ini bisa berlanjut ke masa mendatang,” katanya menutup. [dan/beq]






