Ottawa (beritajatim.com)– Aeshnina Azzahra Aqilani, Co-Captain River Warrior Indonesia (Riverin), kembali menyuarakan keprihatinannya atas sampah plastik impor yang mencemari Indonesia.
Dalam pawai “End Plastic Era” di Ottawa, Kanada, Nina berkesempatan bertemu dengan Menteri Lingkungan dan Perubahan Iklim Kanada, Steven Guilbeault, dan menyampaikan surat protesnya kepada Perdana Menteri Justin Trudeau.
“Tahun 2020 saya mengirim surat protes kepada Perdana Menteri Kanada agar menghentikan pengiriman sampah plastik ke Indonesia, namun hingga kini belum ada balasan,” ungkap Nina kepada Steven Guilbeault dalam siaran pers yang diterima beritajatim.com Selasa (23/4/2024).
Nina juga mengungkapkan bahwa masih banyak sampah plastik impor dari Kanada yang digunakan sebagai bahan bakar di Indonesia.
Nina mendesak pemerintah Kanada untuk menghentikan ekspor sampah plastik ke negara-negara ASEAN. “Tolong balas surat saya dan hentikan ekspor sampah plastik ke Indonesia dan negara-negara berkembang lainnya,” tegas Nina.
Siswi kelas XI SMAMIO Gresik ini juga menyampaikan kekhawatirannya terhadap dampak polusi dari daur ulang sampah plastik Kanada yang dilakukan oleh pabrik-pabrik di Gresik.
“Daur ulang sampah plastik bukan solusi. Kami menemukan industri daur ulang membuang limbah cair yang mencemari sungai-sungai, menjadi bahan baku air minum kami. Mikroplastik di air sungai juga mencemari rantai makanan,” ujar Nina.
Sepanjang tahun 2023, Nina bersama Tim Riverin menemukan beberapa fakta yang meresahkan:
Timbunan sampah impor di desa-desa Kabupaten Gresik, Sidoarjo, Mojokerto, dan Malang (Jawa Timur), serta timbunan besar di dalam Pabrik Kertas PT Indah Kiat di Kragilan Serang, Banten. Timbunan ini berpotensi mencemari air bawah tanah, kontaminasi mikroplastik udara, dan pencemaran dioksin. Selain itu maraknya aktivitas pembakaran sampah plastik impor sebagai bahan bakar pembuatan tahu dan batu gamping juga berpengaruh.
Buangan mikroplastik tinggi dari industri-industri kertas daur ulang di Jawa Timur. Lebih dari 11 industri kertas daur ulang berbahan baku sampah impor membuang limbah cair ke Sungai Brantas, yang menjadi bahan baku air minum, irigasi sawah, dan tambak ikan.
Kontaminasi mikroplastik pada air, sedimen, biota/seafood.
“Atas nama Perdana Menteri, surat Nina akan segera saya balas,” ungkap Steven Guilbeault.
Menteri Lingkungan Kanada ini menyatakan bahwa pemerintah Kanada mengakui masih adanya ekspor sampah plastik ilegal ke Indonesia dan sedang melakukan upaya pembenahan.
“Terima kasih atas dedikasi dan kegigihanmu dalam memerangi sampah plastik. Upaya seperti ini sangatlah penting untuk melindungi planet kita,” kata Steven.
Nina kemudian berpesan kepada masyarakat Indonesia kaitan sampah plastik di antaranya bersama dan kompak menolak sampah plastik impor, mendukung penuh produk lokal ramah lingkungan, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, melakukan pemilahan sampah dan daur ulang dengan benar.
“Jangan lupa berikan suara Anda kepada pemimpin yang berkomitmen untuk melindungi lingkungan. Bersama-sama, kita dapat menciptakan masa depan yang lebih bersih dan berkelanjutan untuk generasi mendatang,” pesan Nina. [aje]






