Malang (beritajatim.com) – Sedikitnya 7 pasien demam berdarah masih menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kanjuruhan, Kepanjen, Kabupaten Malang.
“Sampai hari ini masih ada 7 pasien demam berdarah yang kami rawat,” ungkap Direktur RSUD Kanjuruhan, dr Bobi Prabowo Sp. EM, KEC, M.Biomed, Jumat (29/3/2024).
Pada beritajatim.com, dokter Bobi menjelaskan, selama kurun waktu bulan Januari 2024, pasien virus dengue yang masuk RSUD Kanjuruhan sebanyak 19 pasien.
Jumlah itu meningkat dua kali lipat di bulan Februari 2024 menjadi 48 pasien. “Lonjakan tertinggi pasien demam berdarah terjadi pada bulan Februari kemarin. Ada 48 pasien. Terdiri dari 27 pasien dengan kasus ringan, 19 pasien sedang dan satu pasien demam berdarah kategori berat,” beber dokter Bobi.
Satu pasien kategori berat atau syock ini, sambung Bobi, sampai harus menjalani perawatan khusus di ruang pediatric intensive care unit atau PICU. “Ruang PICU biasanya kami gunakan untuk menangani pasien kritis. Sementara pasien yang lain kami tangano diruang perawatan biasa,” tegasnya.

Bobi memastikan, pasien yang dibawa ke rumah sakit rata-rata sedikit terlambat memperoleh penanganan ketika demam tinggi dirasakan seseorang. Meski sebenarnya, virus dengue penyebab demam berdarah, bisa dilawan dengan memiliki imun tubuh atau antibodi yang bagus pada diri seseorang.
Kata Bobi, ada peningkatan kasus virus demam berdarah dibanding tahun 2023 lalu. Namun, hal itu masih berstatus peningkatan kasus biasa dan bukan kategori kejadian luar biasa atau KLB.
Diberitakan sebelumnya, wabah virus dengue penyebab demam berdarah di Kabupaten Malang mengalami kenaikan signifikan di bulan Maret 2024 ini.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalaian Penyakit Dinas Kesehatan (Kabid P2P Dinkes) Kabupaten Malang Tri Awignami Astoeti menerangkan, tahun 2023 kasus DBD terdapat 1.009 kasus dengan kematian 9 orang dalam setahun. Tahun 2024 per 23 Maret, sudah 905 kasus dengan kematian 10 orang.
“Artinya angka kematian tahun 2024 ini melebihi tahun 2023. Padahal ini baru bulan Maret. Kalau dibiarkan berbahaya,” kata Astoeti, saat memberikan arahan pada rakor pencegahan dan pengendalian penyakit DBD.
Mengingat lonjakan kasus DBD melonjak dua kali lipatnya pada bulan yang sama di tahun 2023, maka perlu adanya penanggulangan baik dari puskesmas, hingga rumah sakit.
Wakil Bupati Malang Didik Gatot Subroto menghimbau, agar masyarakat ikut menjaga lingkungan yang disebabkan oleh dampak problem cuaca ekstrem. Katanya, masyarakat dihimbau tidak membuang sampah sembarangan.
“Saat ini cuaca ekstrem, terus membuang sampah sembarangan lalu ada banjir kecil membawa sampah termasuk kaleng-kaleng yang bisa nempel di pagar kita. Dari perilaku itu, dampaknya bisa muncul nyamuk,” ucapnya.
Maka dari itu, perlu adanya edukasi kesadaran masyarakat tentang hal tersebut. Mulai dari sampah kecil, bekas gula, ini perlu disadarkan.
“Kalau ini dilakukan ini tidak akan terjadi,” tegasnya.
“Termasuk juga edukasi tentang DBD kepada masyarakat. Tanda-tanda dan ciri-cirinya. Jangan sampai kelihatannya flu tapi mematikan,” pungkasnya. (yog/ted)






