Dian Sastrowardoyo berulang tahun ke-42 hari ini, 16 Maret 2024. Saya tidak teringat kue ulang tahun dengan lilin menyala di pucuknya dan nyanyian ‘Selamat Ulang Tahun’. Saya teringat Rocky Gerung.
Rocky lahir di Manado, Sulawesi Utara, 20 Januari 1959. Dia adalah dosen pembimbing skripsi Dian di jurusan Filsafat Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia.
Dalam bincang-bincang di kanal podcast Denny Sumargo, artis yang membintangi serial Ratu Adil itu menggambarkan sosok Rocky yang mengajarkan logika berpikir dengan keras. Dian membandingkan proses berat belajar filsafat di bawah bimbingan Rocky tak ubahnya proses purgatory dalam buku Divine Comedy karya Dante Alighieri. Penyucian di neraka sebelum ke surga.
Saya bisa membayangkan bagaimana Rocky memperlakukan para mahasiswanya yang malas, sebagaimana dia melucuti tokoh-tokoh publik dalam debat-debat terbuka yang sebagian ditayangkan televisi. Tak hanya politisi dan ilmuwan. Kapasitas intelektual jaksa pun dilucuti saat Rocky dimintai keterangan sebagai ahli di persidangan. Ujung-ujungnya, mahasiswa seperti Dian segan dan menaruh hormat, sementara para tokoh publik itu kesal karena merasa dipermalukan.
Saya tidak tahu, apakah ada orang yang pernah membayangkan seseorang bisa bekerja sebagai filsuf profesional. Namun begitulah saya memberikan alamat kepada Rocky: filsuf profesional. Dia tidak bekerja paruh waktu di ruang-ruang kuliah yang tertutup sebagai dosen. Dia tampil di bawah sorotan terang-benderang publik dengan melemparkan penyataan-pernyataan kontroversial bertopang argumentasi dalam hampir setiap isu publik dan politik.
Berpikir, nalar, dan akal sehat adalah ‘mantra’ yang senantiasa disampaikan Rocky dalam setiap diskusi publik. Dalam buku Obat Dungu Resep Sehat: Filsafat untuk Republik Kuat terbitan Komunitas Bambu [2024], yang merupakan buku bunga rampai artikel-artikelnya, dia mengatakan: ‘warga negara tidak dibiasakan sejak dini untuk secara terbuka berargumen’.
Padahal argumentasi adalah dasar terbangunnya kehidupan bernegara yang demokratis. Tanpa argumentasi, masyarakat hanya akan terperosok dalam pusaran tolak-dukung kebijakan berdasarkan sentimen dan fanatisme pada sosok personal dalam relasi kekuasaan. Menghilangnya argumentasi dalam percakapan publik hanya menghadirkan dua opsi: menjadi kambing para demagog atau korban penindasan tirani dalam ilusi demokrasi.
Rocky ingin menghidupkan keberanian publik untuk membangun percakapan dengan kekuasaan. Ia menampik kultur feodalistik, karena: ‘di dalam kultur feodalistik, percakapan politik tidak mungkin berlangsung demokratis’.
Maka kehadiran Rocky menjadi menyegarkan. Setahu saya baru Rocky yang membuat orang mau mendengarkan penjelasan dan dasar-dasar logika isu politik tertentu, tanpa memperhatikan latar belakang sosial dan level pendidikan mereka. Dan tampaknya ini yang ingin dibangun Rocky.
Rocky tak ingin Indonesia terjebak pada demokrasi prosedural dengan pemilu lima tahunan dan kerja-kerja legislatif-eksekutif yang menjadi produk prosedur itu. “Di dalam republik, ‘suasana’ percakapan publiklah yang lebih utama ketimbang fasilitas-fasilitas politiknya (partai, pengadilan, birokrasi),” tulisnya.
Rocky mengingatkan, bahwa Indonesia punya tradisi dan sejarah percakapan itu, dengan mencontohkan peristiwa seputar proklamai kemerdekaan pada 1945 dan Sumpah Pmuda pada 1928. “Keputusan politik harus diambil dalam ruang antisipasi kesalahan dan bukan dalam ruang kebenaran doktrinal,” tulisnya lagi.
Sikap politik Rocky yang terus-menerus berhadapan dengan kekuasaan (atau mengajarkan orang untuk menatap kekuasaan dengan rasa ingin tahu yang kadang kurang ajar), seringkali memicu pertikaian dengan pendukung penguasa atau bahkan penguasa itu sendiri.
Namun sikap Rocky itu juga memunculkan anomali. Dia adalah seorang intelektual Kristen yang bisa diterima dengan tangan terbuka oleh komunitas muslim yang seringkali diidentifikasi radikal atau ‘kanan’. Setidaknya saya belum pernah mendengar argumennya bikin marah kelompok tersebut, bahkan saat kontroversi soal ‘kitab suci sebagai fiksi atau fiktif’ meletup.
Penjelasan Rocky di sejumlah kesempatan soal ‘kitab suci sebagai fiksi atau fiktif’ ini rupanya cukup bisa diterima, sehingga tidak menimbulkan aksi unjuk rasa berjilid-jilid. Demo yang terjadi di Kabupaten Jember, Jawa Timur, pada 7 Maret 2019, justru tidak dilakukan kelompok Islam ‘kanan’, melainkan seorang calon legislator Partai Hanura bernama Jumadi.
Jumadi mengancam akan mengadang Rocky yang hendak hadir dalam acara kuliah umum di Universitas Muhammadiyah Jember. “Apapun risikonya. Saya akan membela para kiai, membela kitab suci Alquran,” sergahnya saat itu.
Suasana sempat tegang. Apalagi polisi melansir informasi bahwa ada sejumlah organisasi kemasyarakatan yang menolak kedatangan Rocky.
Sivitas akademika Unmuh Jember bersiaga. Polisi berjaga-jaga. Rektor Universitas Jember Muhammad Hazmi meminta Rocky tak perlu datang jika keselamatan jadi taruhan.
Namun hari itu Rocky datang dengan menumpang mobil ambulans milik Perserikatan Muhammadiyah. Ia mendapat aplaus meriah saat mengatakan Jember adalah akronim dari ‘Jembatan Berpikir’.
Belakangan, Rocky justru menjadi tamu dalam kanal Youtube Ustaz Abdus Somad, tokoh agama yang senantiasa diidentikkan sebagai ulama yang berseberangan dengan pemerintah yang didukung kelompok nasionalis. Bahkan saya membaca di media sosial, ada banyak orang yang mendoakan Rocky segera masuk Islam.
Doa yang baik. Namun saya kira di sinilah kecerdikan Rocky mengambil posisi. Dia sejak awal meletakkan diri dalam posisi kritis terhadap apapun dan siapapun, termasuk terhadap agama, tanpa harus menyakiti keyakinan apapun.
Saat majalah Charlie Hebdo menerbitkan edisi bergambar karikatur Nabi Muhammad SAW yang kemudian memunculkan aksi kekerasan balasan dari kelompok Islam, Rocky menolak kekerasan dengan tetap mengkritisi kelakuan majalah tersebut.
Rocky mengawali artikel berjudul ‘Charlie Hebdo dan Kita’ yang ada dalam buku ‘Obat Dungu Resep Akal Sehat’ dengan sebuah pertanyaan yang menggedor: “Apakah ‘the orther’ ada dalam pertimbangan Charlie Hebdo ketika menerbitkan setiap edisi, terutama ketika satire itu menghantam nilai sakral seseorang?’.
Dengan pertanyaan itu, Rocky melucuti cara pandang khas Eropa yang memandang ‘the other’ (liyan) yang berada di luar nilai-nilai Barat sebagai ‘pinggiran’. “The other bukan mata orang lain. Itu adalah mata kita yang memandang dari nilai orang lain untuk mengukur nilai kita,” tulisnya.
Dalam artikelnya yang lain, Rocky menjelaskan, bahwa agama masuk dalam wilayah keyakinan. “Itulah sifat utama agama. Karena keyakinan itu tidak dapat dipaksakan, maka kita harus menghormati keyakinan agama yang banyak itu,” tulisnya.
Pernyataan Rocky ini menggemakan apa yang dinyatakan Tan Malaka dalam buku Madilog (Materialisme Dialektika Logika).
“… yang Maha Kuasa, jiwa yang terpisah dari jasmani, surga atau neraka di luar alam raya, berada di luar Madilog dan tidak dikenal oleh ilmu pengetahuan. Semua itu jatuh ke daerah kepercayaan semata-mata. Ada atau tidaknya hal itu pada akhirnya berpulang pada kecondongan perasaan masing-masing orang. Tiap-tiap manusia itu merdeka menentukan dalam kalbu sanubarinya sendiri.”
Kemerdekaan itulah yang hari ini terus-menerus diperjuangkan Rocky. Mungkin saya terlalu berlebihan. Tapi saya kira, dia melakukan apa yang dilakukan tokoh V dalam film ‘V for Vendetta’: menjadi martir untuk membangunkan kejumudan berpikir banyak orang di hadapan rezim kekuasaan yang kaku dan menghendaki keseragaman melalui aparatus negara dan pendengung (buzzer).
‘V’ melakukannya selangkah demi selangkah, dan salah satunya dengan mengajarkan kepada seorang gadis bernama Evey Hammond bahwa ‘gagasan tak bisa dilukai’. Belasan tahun silam, di depan sebuah sidang skripsi terbuka, Dian Sastro adalah Evey Hammond itu.
Selamat ulang tahun, Dian. [wir]







2 Komentar
Tulisan berkelas
Saya juga udah beli bukunya pre-order lagi, dan memang pikirannya berkualitas.