Jember (beritajatim.com) – Partai Golongan Karya (Golkar) melesat merebut enam kursi di DPRD Kabupaten Jember, Jawa Timur, dalam Pemilihan Umum 2024. Sebelumnya dalam Pemilu 2019, partai berlambang pohon beringin ini hanya memiliki dua wakil di Jalan Kalimantan 86.
Lonjakan kursi Golkar ini terbanyak di DPRD Jember. Melebihi Partai Gerakan Indonesia Raya yang bertambah dari tujuh kursi menjadi sepuluh kursi dan PDI Perjuangan yang bertambah satu kursi dari tujuh menjadi delapan kursi.
Enam kursi itu didominasi mayorita wajah baru, yakni M. Ahmad Birbik Munajil Hayat (Daerah Pemilihan 1), Agung Budiman (Daerah Pemilihan 2), Suciati (Daerah Pemilihan 4), Sujarwo Adiono (Daerah Pemilihan 5), dan Nilam Noor Fadilah Wulandari (Daerah Pemilihan 7). Satu-satunya legislator petahana yang tersisa adalah Mochammad Holil Asyari (Daerah Pemilihan 6).
“Ini berkat semangat dan kerja bersama seluruh jajaran pengurus dengan seluruh komponen dan kekuatan di Golkar. Ditambah dengan rakyat memang merindukan Golkar,” kata Ketua Dewan Pimpinan Daerah Partai Golkar Jember Karimullah Dahrujiadi, Senin (11/3/2024).
Karimullah menilai mesin partai dan mesin pemenangan calon legislator bekerja maksimal. “Konsolidasi tingkat kabupaten dan kecamatan kami lakukan. Kalau waktu cukup, kami harus masuk ke tingkat desa. Kuncinya konsolidasi,” katanya.
Golkar Jember juga kembali menghidupkan komunilkasi dengan para sesepuh partai di masyarakat yang selama ini tidak pernah disapa. “Purnawirawan dan mantan pegawai negeri sipil yang dulu menikmati kejayaan Golkar, ketika disapa kembali, insyaallah akan terpanggil, hubungan emosionalnya ada dengan Golkar,” kata Karimullah.
Sementara itu kerinduan rakyat terhadao Golkar, menurut Karimullah, tak lepas dari kondisi sosial saat ini. Ia mencontohkan tersudutnya petani karena kelangkaan pupuk dan harga komoditas yang tidak stabil. “Dulu Kelompencapir (Kelompok Pendengar Pembaca Pirsawan) berjalan. Itu yang melekat pada petani. Itu salah satu contoh saja,” katanya.
Karimullah menilai Golkar Jember mendapat limpahan efek ekor jas koalisi pasangan calon presiden Prabowo Subianto dan calon wakil presiden Gibran Rakabuming Raka. Selain itu, kader-kader dan calon legislator muda Golkar juga bergerak merambah ceruk pemilih milenial dan Gen Z.
Ini yang kemudian membuat Golkar berhasil melepaskan diri dari jebakan sebagai partai tua atau partai kakek-kakek (grand old party), yang dipilih pemilih dari generasi baby boomer saja yang lahir pada 1946 – 1964 dan generasi X yang lahir pada 1965 – 1980. [wir]






