Persebaya Surabaya perlu mencari cara untuk mementahkan kutukan pemain berposisi nomor 9 atau penyerang. Sejak David da Silva pergi, Persebaya tak punya striker yang tajam. Gol untuk Persebaya justru diborong pemain-pemain berposisi sayap seperti Taisei Marukawa (yang sekarang bermain untuk PSIS Semarang) dan Bruno Moreira.
Memasuki pekan ke-25, Persebaya masih berada di posisi ke-12 klasemen sementara dengan mengemas 31 angka. Pertandingan melawan Persita yang berakhir 1-1 di Stadion Indomilk Arena, Kabupaten Tangerang, Jumat (24/2/2024), sekali lagi menunjukkan bagaimana striker Paulo Henrique masih belum bisa memenuhi ekspektasi Munster dan Bonek.
Bahkan Henrique menjadi bahan ledekan. Dia mencetak tiga gol, namun tidak membawa kemenangan bagi Persebaya. Satu gol bunuh diri dicetaknya untuk Persita pada menit 45+1, satu gol untuk Persebaya pada menit 76, dan sebuah gol yang dianulir ke gawang Persita pada menit 37 karena ia berdiri offside.
Tanpa posisi bernomor 9 yang tajam, jelas bakal sulit bagi Pauil Munster mengerek posisi anak-anak asuhnya itu ke papan atas kompetisi Liga 1 Musim 2023-24. Pertanyaan besar yang mengapung: mengapa susah sekali bagi Persebaya untuk mencari ujung tombak?
Kritik yang selalu berulang adalah sejauh mana peran tim pemburu bakat untuk mencari ujung tombak yang pas dengan skema 4-3-3 Persebaya. Bagaimana komunikasi antara pelatih dengan manajemen klub untuk menghadirkan pemain yang sesuai dengan filosofi taktiknya? Sejauh mana kebebasan pelatih dan informasi yang diterima dalam menentukan pemain sendiri?
Sejauh ini, striker-striker yang didatangkan Persebaya musim ini setelah Da Silva pergi, dinilai tak sesuai dengan filosofi bermain pelatih Aji Santoso hingga Munster. Persebaya belum bisa menggantikan sosok Da Silva yang tak hanya menunggu bola, tapi juga rajin mencari peluang, dan bahkan ikut bertahan.
Striker-striker Persebaya yang didatangkan manajemen, seperti halnya Paulo Henrique, beratribusi penyerang tunggal tipe klasik. Dia memilih menunggu operan bola dari pemain lain daripada repot-repot merebut bola atau ikut bertahan. Celakanya sejumlah pemain depan yang didatangkan memiliki mutu yang sangat jeblok seperti Arsenio Valpoort dari Belanda.
Tanpa striker yang tajam dan jeli memanfaatkan peluang di depan gawang, Persebaya terpaksa bergantung pada kinerja pemain lini kedua seperti Bruno Moreira. Tentu ini kabar buruk, karena dengan demikian, Munster tidak bisa meracik taktik dengan lebih variatif dan muncul ketergantungan terhadap satu pemain. Padahal dengan sisa sembilan pertandingan, Persebaya harus bisa mencetak gol sebanyak-banyaknya untuk mereparasi posisi defisit agregat minus sembilan gol.
Jika dilihat dari klasemen produktivitas gol, Persebaya bahkan lebih buruk daripada Persikabo dan Arema yang berada di zona degradasi. Dengan mengemas 26 gol, lini serang Persebaya memiliki produktivitas terburuk kedua setelah Bhayangkara FC yang saat ini berada di posisi juru kunci dan mencetak 24 gol.
Paul Munster tak putus asa terhadap Henrique. “Mentalnya kuat dan dia tahu bagaimana cara mencetak gol,” kata pelatih asal Irlandia Utara itu. Semoga saja mental Henrique cukup kuat dan tahu cara menjebol gawang PSM Makassar, Rabu (28/2/2024). [wir]






