Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) tingkat Provinsi, Kabupaten dan Kota direncanakan dihelat pada November 2024. Termasuk di antaranya Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jatim juga dilaksanakan pada November tahun ini.
Masih sekitar 9 bulan lagi pesta demokrasi tingkat regional Jatim itu digelar. Partai mana mendukung figur siapa di Pilgub Jatim 2024 mulai terbuka.
Khofifah Indar Parawansa, Gubernur Jatim periode 2019-2024, telah memperoleh dukungan dari 4 partai: Partai Demokrat, Partai Golkar, Partai Gerindra, dan Partai Amanat Nasional (PAN). Dari keempat partai ini, jumlah kursi di DPRD Jatim mencapai 48 kursi. Satu jumlah kuantitatif kursi yang sudah lebih dari cukup bagi Khofifah untuk masuk sebagai peserta di bursa Pilgub Jatim 2024.
Melihat hasil penghitungan Pileg yang saat ini sedang berlangsung, tampaknya dari keempat parpol yang telah menyatakan dukungan kepada Khofifah di Pilgub Jatim 2024, jumlah raihan kursi mereka di DPRD Jatim periode 2024-2029 kemungkinan besar meningkat.
Partai Golkar dan Partai Gerindra, dua partai berpaham Nasionalis yang kinerja politiknya di Pileg 2024 meningkat cukup tinggi. Selain tentu Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), kekuatan kaum Islam Tradisional yang secara nasional mengalami akselerasi suara dukungan politik dibanding pada Pileg 2019.
Khofifah Indar Parawansa, politikus berdarah Nahdlatul Ulama (NU) dan kini menjabat sebagai Ketua Umum PP Muslimat NU, mempunyai kans politik besar masuk dan berbicara banyak di Pilgub Jatim 2024. Khofifah kemungkinan besar bertandem dengan Emil Elestianto Dardak, Wagub Jatim yang digandengnya di Pilgub Jatim 2018 lalu.
Selama 5 tahun mengemban amanat sebagai pemimpin Jatim, kedua tokoh ini mampu merajut sinergi dan kolaborasi tanpa friksi, minus isu-isu tak sedap yang bisa bermakna negatif kepada integritas keduanya. Khofifah dan Emil saling melengkapi dan saling memperkuat. Khofifah dengan karakter dan model kepemimpinan transformatif yang diperankannya, mampu membangun solidaritas sosial yang kokoh antarkomunitas sosial dan politik di Jatim.
Khofifah, Ketua Umum PP IKA Unair ini memiliki kapasitas kepemimpinan solidarity maker yang kuat dan teruji. “Marwah dan aura kepemimpinan Ibu (Khofifah) itu sangat kuat dan membuat banyak kalangan segan,” kata seorang tokoh bisnis di Jatim kepada penulis beberapa hari lalu.
Pemimpin berkarakter solidarity maker adalah pemimpin yang mempunyai sikap, pembawaan, dan kemampuan menggalang solidaritas orang-orang dari berbagai macam latar belakang untuk mencapai tujuan bersama.

Kategorisasi model kepemimpinan ini dikemukakan Herbert Faith, Indonesianis dan profesor ilmu politik asal Australia. Khofifah bertindak cepat, terukur, dan cekatan dalam menyelesaikan berbagai problem pembangunan dan kemasyarakatan di akar rumput. Dia menjadi pemimpin yang hadir langsung di lapangan, memetakan, mengidentifikasi masalah, dan menyelesaikan masalah rakyatnya secara cepat, tepat, dan cekatan.
Di sisi lain, dengan latar belakang pendidikan yang mumpuni di usia muda, belum genap berusia 40 tahun telah menyandang gelar doktoral (S-3), Emil Dardak mengemban amanat berat sebagai orang kedua di Jatim. Selama 5 tahun mendampingi Khofifah, watak kesabaran Emil Dardak benar-benar teruji.
Emil mampu menempatkan posisi politiknya sebagai orang kedua dengan baik. Sadar sebagai ‘ban serep’ dan tak memiliki otoritas mengambil policy, selama 5 tahun membersamai Khofifah merupakan pengalaman politik empirik sangat berharga bagi Emil Dardak dan makin mematangkan karakter dan perilakunya sebagai tokoh penting pemerintahan. Emil Dardak bukan sekadar ‘otaknya yang encer’ (baca: cerdas).
Tapi, lebih penting dari itu adalah pemahaman paripurna dari Emil Dardak atas fatsun dan etika politik di lembaga pemerintahan. Poin ini penting karena menjadi landasan bangunan politik kepemimpinan kepala daerah dan wakil kepala daerah setelah kontestasi politik usai dan keduanya duduk di kursi kekuasaan.
Secara faktual, banyak pasangan kepala daerah dan wakil kepala daerah, baik di tingkat provinsi, kabupaten, dan kota tak mampu berjalan seirama dan seiring dalam menapaki peran kepemimpinan yang mereka jalani. Terjadi cekcok dan pembelahan kepemimpinan politik di daerah antara kepala daerah versus wakil kepala daerah. Fakta politik ini tak sulit kita temukan di kabupaten/kota di Jatim maupun di provinsi lainnya di Indonesia.
Selama 5 tahun mendampingi Khofifah, Emil Dardak ‘lulus’ dengan baik. Sinergitas dan kolaborasi politik antarkeduanya dalam memerankan fungsi kepemimpinan politik terbangun kuat dan mampu diimplementasikan dengan baik dalam berbagai policy yang menjadi otoritas Pemerintah Provinsi. Emil Dardak memperlihatkan potretnya sebagai pemimpin yang bertipe administrator, merujuk pada konsep yang dikemukakan Herbert Feith.
Kepemimpinan teknokratis terlihat dari fungsi dan peran kepemimpinan yang ditunjukkan Emil Dardak. Kepemimpinan teknokratis dari tipe pemimpin administrator adalah peduli pada hal-hal yang bersifat detail dan konkret, berpikir secara metodologis, ketat dalam logika ilmiah, dan selalu berpikir keras bagaimana ide-ide besar itu bisa diterapkan dalam lapangan praktis.
Kompetitor
Masih ada 5 parpol lainnya yang belum menentukan dukungan politiknya di Pilgub Jatim 2024. Agenda Pileg dan Pilpres 2024 yang semua tahapannya belum rampung menjadi atensi mereka. Pilgub Jatim, pilgub provinsi lainnya, dan pilkada kabupaten/kota di seluruh Indonesia menjadi fokus agenda mereka setelah hasil Pileg dan Pilpres diterima peserta.
Kelima parpol itu adalah PKB, PDIP, PKS, Partai NasDem, dan PPP. Kelima partai ini berada di kutub dukungan politik berbeda dengan Khofifah-Emil Dardak di agenda Pilpres 2024. PKB, PKS, dan Partai NasDem mendukung Anies-Cak Imin. PPP dan PDIP bersinergi untuk menyokong Ganjar Pranowo-Mahfud MD. Sedangkan Khofifah dan Emil Dardak melabuhkan dukungan politiknya kepada Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka.
Partai NasDem dan PPP adalah dua kekuatan politik yang mendukung Khofifah-Emil Dardak di Pilgub Jatim 2018 lalu. Tak menutup peluang kedua partai ini tetap memberikan sokongan politik kepada Khofifah-Emil Dardak sekalipun saat Pilpres 2024 posisi politiknya berseberangan.

Di sisi lain, PDIP dan PKB adalah dua partai yang memiliki cukup banyak kader tulen dari internal untuk bisa running di Pilgub Jatim 2024. Di PDIP, misalnya, nama Tri Rismaharini, kini menjabat Menteri Sosial dan mantan Wali Kota Surabaya dua periode, adalah politikus mumpuni yang memiliki jam terbang cukup guna melakoni Pilgub Jatim 2024. Selain itu, nama Eri Cahyadi, Wali Kota Surabaya, adalah tokoh Nasionalis Soekarnoisme yang disebut-sebut berpeluang dijagokan PDIP sebagai cagub-cawagub Jatim di Pilgub 2024.
Sama dengan PDIP, PKB juga tak kekurangan kader mumpuni untuk diterjunkan di Pilgub Jatim 2024. Di antaranya ada nama Abdul Halim Iskandar, kakak kandung Muhaimin Iskandar, yang kini menjabat Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal.
Nama mantan Bupati Lumajang M Thoriq dan mantan Bupati Pamekasan Badrut Tamam adalah dua politikus muda PKB yang juga berpeluang masuk bursa Pilgub Jatim 2024. PDIP dan PKB merupakan dua partai yang mampu secara mandiri mengajukan cagub-cawagub tanpa harus berkoalisi dengan partai lainnya.
Ainur Rohim,
Direktur Utama dan Penanggung Jawab beritajatim.com







4 Komentar
Kalau Bu Risma maju, saya pasti pilih Bu Risma, kerjanya sat set gak pake ini itu
Bu Risma ..aku yess..sat set was wes
Ayo Bu Risma maju tak gentar cagub Jatim yg saya nanti untuk memilihnya.
Ayo Bu Kofifah saya siap memenangkan mu menuju Jawa Timur All yg berkeadilan dan maju..!! Lanjutkan 2 periode…!!