Sumenep (beritajatim.com) – Merayakan malam Nishfu Sya’ban masih menjadi tradisi yang melekat kuat di masyarakat Sumenep, Madura. Hampir di semua masjid, musala, dan langgar-langgar, tidak melewatkan malam istimewa yang diyakini sebagai malam penuh ampunan.
Umat muslim Sumenep akan berbondong-bondong datang ke masjid, musala, maupun langgar-langgar, untuk salat Maghrib berjamaah. Usai salat, dilanjutkan dengan membaca surat Yasin 3 kali, kemudian berdoa dan berdzikir bersama. Kemudian diteruskan dengan sholat Isya’ berjamaah.
Setelah sholat Isya’, warga akan saling bersalaman, bermaaf-maafan, tak ubahnya seperti saat Lebaran tiba. Umat muslim di Sumenep meyakini bahwa bulan Sya’ban ini adalah saat menutup catatan lama dan membuka catatan amalan baru.
“Di tempat kami, setiap malam Nishfu Sya’ban, warga akan berkumpul di musholla sejak Maghrib. Kami salat berjamaah, mengaji Yasin, dan berdoa bersama. Kami berharap membuka catatan baru di bulan Sya’ban dengan amalan yang baik,” kata Khalika, Ketua Pengurus Musala Nurus Salam, Desa Kolor, Kecamatan Kota Sumenep, Sabtu (24/02/2024).
Di beberapa desa di Sumenep, setelah salat Isya’ berjamaah, tradisi masih berlanjut dengan ‘unjung-unjung’. Nyaris tidak berbeda dengan lebaran. Warga yang lebih muda akan berkeliling, ‘sowan’ dari satu rumah ke rumah lain, untuk bersalaman dan bermaaf-maafan.
Khusus untuk anak-anak, malam Nishfu Sya’ban ini pun menjadi momen ‘panen’ kue-kue dan uang kecil. Hampir di setiap rumah memberikan secara cuma-cuma, kue-kue dan camilan serta uang receh untuk anak-anak yang berkunjung.
“Disini memang sudah tradisi. Hampir di tiap rumah menyediakan kue, kemudian uang seribuan atau dua ribuan, yang dibagikan kepada anak-anak yang datang ke rumah pas malam Nishfu Sya’ban,” kata salah satu warga Desa Parsanga, Kecamatan Kota Sumenep, Aditya.
Ia mengaku sama sekali tidak keberatan dengan ‘serbuan’ puluhan anak-anak ke rumahnya, untuk bersalaman, kemudian membawa pulang kue dan uang kecil yang telah disiapkan.
“Kebetulan di rumah saya ada ibu yang bisa dikatakan sesepuh di kampung ini. Jadi kalau malam Nishfu Sya’ban, rumah pasti ramai seperti Lebaran,” ucapnya sambil tersenyum.
Bagi anak-anak, momen malam ‘Nishfu Sya’ban’ menjadi saat menyenangkan. Apalagi tahun ini bertepatan dengan malam Minggu. Anak-anak bisa lebih lama berkeliling dari rumah ke rumah, kemudian dari kampung ke kampung. Mencari berkah, katanya. Tentu saja mereka pulang ke rumah dengan bawaan kue yang cukup banyak. Biasanya anak-anak ini sudah menyiapkan ‘tas kresek’ untuk menampung kue-kue dan camilan yang mereka dapatkan. Selain itu, kantong baju dan celana mereka pun penuh dengan uang pecahan seribu dan dua ribu.
“Senang sekali kalau malam Nishfu Sya’ban. Banyak dapat kue, dapat uang. Lumayan, bisa disimpan untuk sangu sekolah. Gak usah minta ke ibuk,” kata Zhafif dengan mata berbinar-binar.
Ia ‘unjung-unjung’ berkeliling bersama teman-teman seusianya. Mereka memulai ‘aksi mencari berkah’ itu setelah salat Isya’. “Ya bareng-bareng sama teman-teman kalau keliling. Ramai-ramai gitu,” ujar bocah 11 tahun ini sambil tertawa. (tem/kun)






