Surabaya (beritajatim.com) – Sebanyak 98 Fakultas Kedokteran (FK) se-Indonesia berkumpul di Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) untuk membahas berbagai isu dan tantangan dunia pendidikan kedokteran.
Dalam pembahasan tantangan kesehatan di era society 5.0, disinggung bahwa adanya perkembangan teknologi perlu diadakan peninjauan sistem pembelajaran untuk menyiapkan dokter-dokter baru di era saat ini.
“Dokter perlu mengambil peran kepemimpinan serta pengembangan produk, dan pendidikan social-entrepreneurship dapat diaplikasikan pada revolusi industri mendatang, era 5.0,” ujar Ketua Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia (AIPKI) Prof Budi Santoso, Jumat (16/2/2024).
Menurutnya, sistem perawatan kesehatan yang berubah cepat memerlukan kombinasi dari domain fisik, digital, dan biologis. Revolusi industri telah mempengaruhi banyak aspek kehidupan manusia secara signifikan.
“Dalam era dinamis ini, penting bagi institusi pendidikan kedokteran bersatu dalam upaya meningkatkan standar pendidikan dan penelitian seperti integrasi teknologi dalam kurikulum, peningkatan kualitas pengajaran klinik, dan kolaborasi dengan industri kesehatan,” katanya.
Sementara itu, Ketua Yayasan Rumah Sakit Islam Surabaya (Yarsis) Prof Mohammad Nuh menilai sangat diperlukannya penguatan sinergi institusi pendidikan kedokteran untuk bisa mengikuti era revolusi 5.0.
“Dengan perkembangan teknologi, diperlukan rekomendasi objektif mengenai penambahan dokter dan pelayanan kesehatan, seperti halnya inovasi teknologi layanan home care, personalized care, wellness and preventive care, end-of-life care,” ujarnya.
Sedangkan Rektor Unusa Prof Achmad Jazidie menjelaskan mengaku sangat terhormat dengan dipilihnya Unusa sebagai tuan rumah Forum Dekan (Fordek) AIPKI.
“Dari 98 FK saat ini terdapat 11 FK baru yang saat ini tergabung dalam AIPKI. Sebagai istitusi pendidikan kedokteran, kami akan selalu turut berperan aktif dalam mewujudkan pelayanan kesehatan yang berkualitas bagi seluruh rakyat Indonesia,” tuturnya. [ipl/kun]






