Yogyakarta (beritajatim.com)– Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisipol) UGM memberikan surat terbuka kepada Mensesneg (Menteri Sekretaris Negara) Pratikno dan Koordinator Staf Khusus Presiden RI, Ari Dwipayana untuk kembali “pulang” ke UGM dan membela demokrasi.
Hingga saat ini Pratikno dan Ari Dwipayana sendiri tercatat sebagai pengajar di DPP Fisipol UGM. Mahasiswa menilai apa yang dilakukan Pratikno dan Ari Dwipayana sebagai pejabat pemerintah saat ini bertentangan dengan kuliah mereka di kelas.
“Rasanya baru kemarin kami mendengar ceramah Pak Tik dan Mas Ari di kelas mengenai demokrasi. Kami diyakinkan bahwa demokrasi merupakan sebuah berkah yang harus kita jaga selalu keberlangsungannya,” demikian potongan surat terbuka mahasiswa DPP Fisipol UGM yang dibacakan Senin (12/22024).
Kepada Pratikno dan Ari Dwipayana, mahasiswa mengaku resah karena demokrasi “sedang sekarat.” Mahasiswa merujuk revisi UU KPK, terbitnya UU Ciptaker, revisi UU ITE, serta pembajakan konstitusi untuk kepentingan pribadi dan golongan.
Hadir sejumlah dosen dan alumnus, termasuk Ketua DPP Fisipol UGM Abdul Gaffar Karim.
Mahasiswa pun mengingatkan Pratikno dan Ari Dwipayana tentang konsep “intelektual jalan ketiga” yang diajukan rekan almamater mereka, mendiang Cornelis Lay.
Mahasiswa menilai, sebagai intelektual, Pratikno dan Ari Dwipayana justru menjadi bagian dari persoalan bangsa. Untuk itu, mewakili dua akademisi UGM tersebut, mahasiswa meminta maaf kepada rakyat Indonesia.
“Kami masih mengingat betul suara Pak Tik dan Mas Ari ketika menyebut kata ‘demokrasi’ di ruang-ruang kelas. Gema suara itulah, Pak Tik dan Mas Ari, yang membangunkan kami dari kematian kepedulian terhadap bangsa dan negara ini. Kami menjaga gema itu di sini, memastikan semuanya mendengar dan mengamini.”
Mereka secara kompak meminta Mas Ari dan Pak Tik untuk pulang kembali mengajar mahasiswa dan menegakkan demokrasi dengan kata dan perbuatan. [aje]






