Ponorogo (beritajatim.com) – Forum Lingkar Pena (FLP) cabang Ponorogo dan Nganjuk mengadakan kegiatan sesi berbagi menulis. Kegiatan yang dilaksanakan secara online melalui zoom meeting itu, mengangkat tema Menulis Cerpen dengan Latar Lokalitas Budaya. Narasumber yang dihadirkan dalam kegiatan itu, Sapta Arif, yang merupakan Kepala Humas STKIP PGRI Ponorogo. Dalam kesempatan itu, penulis buku Bulan Ziarah Kenangan dan Di Hari Kelahiran Puisi itu, membahas tentang kearifan lokal dalam cerita.
Farida selaku Ketua FLP cabang Ponorogo menyampaikan bahwa acara ini merupakan bagian dari program pengembangan anggota. Dalam sesi berbagi menulis kali ini, Ia menyebutkan bahwa fokusnya untuk penulisan cerita pendek (cerpen).
“Kita fokus pada cerita pendek,” ungkap Farida, ditulis Senin (12/02/2024).
Sambutan yang luar biasa datang dari Ketua FLP cabang Nganjuk Diah Santi. Dia berharap, acara ini menjadi awal hidupnya kegiatan komunitas FLP cabang Nganjuk yang baru genap berusia satu tahun pada bulan Maret tahun ini.
“Semoga ini menjadi awal yang baik untuk FLP cabang Nganjuk yang akan berusia 1 tahun pada bulan Maret mendatang,” kata Diah.
Sapta Arif tidak hanya membahas tentang kearifan lokal dalam cerita pendek, melainkan juga mencakup proses kreatif, lokalitas dalam cerpen, riset dalam cerpen, dan media publikasi cerpen.
Pada kesempatan tersebut, Sapta Arif menjelaskan teknik menulis cerpen dengan menekankan pada penentuan karakter, tujuan tokoh, dan rintangan.
“Ada banyak model premis yang dianut oleh berbagai pengarang. Kita menggunakan tiga poin: karakter atau tokoh, goals, dan rintangan,” ujar Sapta.
Selama penyampaian materi, Sapta memberikan contoh dengan menggunakan cerpen yang ia tulis berjudul “Menerobos Lengkara”. Cerita ini menceritakan tentang percintaan antara Wage dan Anjani yang terhalang oleh restu orang tua karena adat perkawinan. Pernikahan lusan (anak pertama menikah dengan anak ketiga) menjadi alasan orang tua Anjani untuk tidak merestui hubungan mereka.
Selain metode premis, Sapta juga berbagi pengalaman tentang metode riset dalam menulis cerita. Baginya, tujuan dari riset ada dua, yaitu menentukan lanskap cerita dan mengembangkan cerita.
Satu jam penyampaian materi dari Sapta terasa begitu cepat dengan antusiasme peserta, yang terlihat dari banyaknya pertanyaan setelah pemaparan materi. Farida, salah satu peserta, mengalami kesulitan dalam memulai menulis fiksi karena kebiasaannya menulis non-fiksi. Sapta menyarankan untuk menggunakan teknik aliran tulisan atau “flow” tanpa terlalu memikirkan pilihan kata pada awalnya, dan melakukan tahap editing setelah selesai menulis.
“Kita dapat mengawalinya dengan tuliskan saja dengan mengalir. Jangan terganggu dengan pilihan kata atau bahasa yang kita gunakan. Kalau sudah selesai, kan ada yang namanya tahap editing,” pungkasnya. [end/but]






