Surabaya (beritajatim.com) – Ketua Umum PP Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu), Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim, MA ikut buka suara terkait aksi guru besar dan civitas akademika di beberapa kampus di Indonesia. Aksi itu bertemakan mengawal demokrasi dan menjaga NKRI.
“Janganlah kebesaran keilmuan guru besar kalah dengan segelintir orang provokator yang memprovokasi di internal kampus. Sikap guru-guru besar itu mengganggu kedamaian,” kata Kiai Asep kepada wartawan di Surabaya, Senin (5/2/2024).
Kiai Asep menyayangkan sikap para akademisi di beberapa kampus yang menjelek-jelekkan Presiden Jokowi dan tidak pernah memikirkan jasa besar Jokowi. “Salah satu contohnya adalah membangun ribuan kilometer jalan tol dan kereta cepat Jakarta-Bandung. Kereta cepat itu setara dengan yang ada di Makkah,” tuturnya.
Jika ingin mengkritik pemerintah, Kiai Asep yang juga Pengasuh Ponpes Amanatul Ummah Surabaya ini berharap dilakukan secara sopan dan tulus. “Jangan mengarah kepada upaya pemakzulan atau impeachment. Saya yakin aksi-aksi itu ada yang menunggangi dan pasti ada provokatornya. Ini berawal dari isu pemakzulan yang sempat mencuat,” jelasnya.
Sementara itu, mencermati dinamika politik nasional pada proses Pemilu 2024 dan untuk mengawal terselenggaranya pemilu damai, serta menjaga keutuhan NKRI, Pimpinan Pusat Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) beserta seluruh jajaran pengurus baik tingkat kabupaten/kota, kecamatan dan desa mengeluarkan pernyataan sikap:
1. Menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika dan menjaga keutuhan Negara kesatuan Republik Indonesia (NKRI)
2. Mengimbau kepada semua civitas akademika, guru, dosen terutama Guru Besar agar bisa bersama-sama mewujudkan Pemilu 2024 yang damai, sopan bermartabat dan penuh tanggung jawab dalam upaya menjaga persatuan dan kesatuan bangsa
3. Mengimbau kepada semua elemen bangsa agar bersama-sama menjaga situasi kamtibmas yang aman, damai dan kondusif selama pelaksanaan Pemilu 2024 serta tidak melakukan gerakan-gerakan yang bisa memecah belah keutuhan bangsa. [tok/aje]






