Malang (beritajatim.com)– Pada diskusi dan silaturahmi Rektor Wisnu Wardhana (Unida) Malang Prof.Dr. Suko Wiyono, SH, MH terkait Pemilu 2024, Sabtu (3/2/2024), mengajak seluruh pihak kampus untuk tetap menjaga persatuan dan kesatuan.
Menurut Pro.Suko Wiyono yang menjabat Ketua Dewan Pembina Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta (PTS) Jatim menyatakan, tidak akan mengajak PTS di Jatim untuk memilih Paslon Capres maupun Cawapres tertentu, pada Pilpres 2024.
Hal itu karena PTS di Jatim yang jumlahnya 253 PTS, memiliki Badan Penyelenggara yang visi dan misinya berbeda antara PTS yang satu dengan yang lain. Sehingga, banyak kemungkinan antara pengelola PTS yang satu berbeda pilihan dengan PTS yang lain.
“Kami menghimbau agar pimpinan PTS di Jatim tetap menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat meski harus berbeda pilihan dan juga beda pendapat dalam Pilpres. Pimpinan PTS harus memberi teladan kepada segenap warga masyarakat bangsa dan negara untuk melaksanakan nilai nilai luhur Pancasila tidak melanggar etika juga tidak melanggar peraturan perundang undangan yang berlaku,” tegas Prof.Suko, Senin (5/2/2024).
“Hal ini juga kami harapkan tidak hanya dilakukan oleh pimpinan PTS saja, tetapi juga dilakukan oleh semua yang diberi amanah untuk memimpin bangsa ini disemua lini dan lapisan dari level tertinggi Presiden sampai lapisan yang paling bawah Ini adalah tugas kita bersama,” sambung Profesor Suko.
Menurut Suko, dalam memberikan masukan kepada calon pimpinan, ia juga tegas mengajak seluruh warga bangsa untuk selalu berpegang pada kultur ataupun budaya bangsa.
“Jangan sampai narasi narasi yang kita sampaikan bisa membuat ketersinggungan orang ataupun pihak lain,” tegasnya.
Suko menegaskan, setiap orang memiliki hak demokrasi tanpa terkecuali. Setiap orang memiliki hak untuk menyampaikan pendapat di muka umum, tanpa terkecuali. Dan hal ini, sudah dijamin dalam UUD 1945.
“Silakan menggunakan haknya, tapi jangan memaksakan orang lain bahwa pendapatnya paling benar. Pendapat sekelompok orang tidak boleh dipaksakan sebagai pendapat seluruh rakyat Indonesia. Kami menghimbau untuk menjaga iklim demokrasi, menjaga persatuan dan kesatuan bangsa dan negara diatas kepentingan kelompok, golongan tertentu,” bebernya.
Profesor Suko menambahkan, dirinya berpesan agar seluruh komponen bangsa hingga aparatur negara untuk tidak menyakiti hati masyarakat.
“Harus hati-hati dalam menyampaikan narasi. Sebab menyikapi situasi saat ini menjelang Pemilu dan paska pemilu nantinya, perlu pendekatan kultural kepada siapapun. Tidak boleh main kasar, dan harus merangkul serta menyentuh semua golongan dengan baik,” Suko mengakhiri. [yog/aje]






