Bojonegoro (beritajatim.com) – Pemerintah Desa (Pemdes) Sukoharjo Kecamatan Kalitidu Kabupaten Bojonegoro bersama warga, perguruan tinggi serta beberapa organisasi masyarakat sipil (OMS) melakukan kegiatan penanaman pohon untuk konservasi lingkungan dan pengembangan kawasan Agroforestri, Minggu (4/2/2024).
Desa penghasil minyak dan gas bumi (migas) lapangan Kedung Keris yang dioperatori ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) itu sadar sebagai daerah penghasil migas juga turut menyumbang emisi karbon. Untuk itu, kegiatan penghijauan itu akan terus dilakukan sebagai bagian dari tanggung jawab moral untuk berkontribusi dalam penyerapan emisi.
“Desa Sukoharjo merupakan salah satu desa penghasil migas di Bojonegoro, dengan demikian Sukoharjo termasuk ikut menyumbang emisi karbon yang menyebabkan krisis iklim global,” ujar Kepala Desa Sukoharjo, Kecamatan Kalitidu, Sulistiyawan.
Sulistiyawan menambahkan, kegiatan penanaman pohon ini muncul dari kepedulian dan kesepahaman bersama, antara Pemdes, warga, akademisi dan beberapa pegiat organisasi masyarakat sipil mengenai kondisi kerusakan lingkungan yang makin parah dan krisis iklim. Kenaikan suhu bumi yang sangat dirasakan dampaknya oleh masyarakat, krisis iklim, cuaca ekstrim serta pergantian musim yang makin tidak menentu.
Sulistiyawan menjelaskan bahwa kegiatan konservasi dan pengembangan kawasan Agroforestri Desa Sukoharjo bertujuan untuk pembangunan lingkungan dan juga peningkatan pendapatan warga melalui pengembangan budidaya tanaman buah-buah yang memiliki nilai ekonomis.
“Jika pengembangan Agroforestri ini berhasil, kami juga akan membangun taman Arboretum, sehingga ke depannya kita bisa mengembangkan ekowisata atau wisata berbasis alam,” tambahnya.
Kegiatan konservasi dan pengembangan Agroforestri Desa Sukoharjo pun mendapat apresiasi Direktur Bojonegoro Institute, Aw Saiful Huda. Menurut Awe, panggilan akrabnya, selama ini Bojonegoro Institute telah menjalin kerjasama dan mendampingi Pemdes Sukoharjo untuk penguatan kelembagaan dan pengembangan inovasi percepatan pengentasan kemiskinan desa.
“Kami melakukan kegiatan SLA (Sustainable Livelihood Approach) yang dipandu saudara Agni Paribrata dari EJEF (East Java Ecotourism Forum). Kesimpulan sementara terhadap 5 modal penghidupan, eksploitasi terhadap sumber daya alam belum menimbulkan multiplayer effect bagi beberapa parameter penghidupan masyarakat desa setempat,” jelas Awe.
Menurut Awe, sebagai desa terdampak industri migas, Desa Sukoharjo memikul beban sosial dan lingkungan yang lebih berat. Mulai dari permasalahan kemiskinan, kesenjangan sosial, hingga dampak-dampak kegiatan industri bagi penghidupan dan lingkungan warga sekitar.
Awe pun menyebut, tingkat kemiskinan Desa Sukoharjo relatif masih cukup tinggi. Pada tahun 2023, angka kemiskinan Desa Sukoharjo sekitar 14,04 persen, menempati urutan tertinggi ke-2 di Kecamatan Kalitidu, Kabupaten Bojonegoro. Ini berdasarkan data kemiskinan Desil 1 yang dipublikasikan Kementrian Dalam Negeri melalui website: eprodeskel.kemendagri.go.id
“Rencana pengembangan kawasan Agroforestri dan taman Arboretum di Desa Sukoharjo merupakan terobosan dalam upaya meningkatkan kesejahteraan warga serta meningkatkan kualitas lingkungan Desa Sukoharjo. Termasuk salah satu bentuk praktik baik dari peran desa dalam penanganan isu lingkungan dan krisis iklim global,” pungkasnya.
Sebagai informasi, kegiatan penanaman pohon di Desa Sukoharjo diselenggarakan oleh Pemerintah Desa Sukoharjo bekerjasama dengan pegiat East Java Ecotourism Forum (EJEF), Agni Istighfar Paribrata, Prodi Ilmu Lingkungan Universitas Bojonegoro (UNIGORO), Bojonegoro Institute, Yayasan Adopsi Hutan Jawa Timur (YAH-JT) dan Perempuan Kader Lingkungan Desa Sukoharjo.
Kegiatan ini juga mendapat apresiasi hingga bantuan bibit dari Ademos Indonesia, Cabang Dinas Kehutanan (CDK) Jawa Timur dan lainnya. Kegiatan penanaman dimulai sejak pukul 07.00 Wib, kemudian dilanjutkan dengan acara sarasehan lingkungan dan pementasan seni pertunjukan teater yang bertemakan lingkungan. [lus/aje]







