Pamekasan (beritajatim.com) – Media Officer Madura United FC, Ferdiansyah Alifurrahman mencabut laporan atas insiden pengeroyokan yang dialaminya saat bertandang ke markas di Stadion Maguwoharjo, Sleman, Minggu (24/9/2/2023) lalu.
Pencabutan laporan atas kekerasan yang dialaminya, dilakukan langsung bersama Manajer Madura United FC, Umar Wachdin di Polres Sleman, Senin (29/1/2024) kemarin.
“Dengan sadar dan tanpa paksaan atau intervensi dari siapapun, kami bersama Bang Umar Wachdin datang ke Polres Sleman, dan mencabut laporan yang kami buat pada 24 September 2023 lalu,” kata Ferdiansyah Alifurrahman, Sabtu (3/2/2024).
Hal tersebut dilakukan sebagai bentuk lapang dada, sekaligus mengaggap kejadian yang dialami sebagai insiden semata, sekaligus resiko dari pekerjaan yang dijalaninya. “Mungkin marah dan dendam itu ada, tapi dalam agama kita diajarkan untuk memaafkan,” ungkapnya.
Baca Juga: Madura United Akui Kekalahan dari Persis Solo
“Artinya memaafkan orang yang jahat kepada kita dengan kebaikan, apalagi yang timbul dari hati terdalam secara pribadi karena kami tetap ingin menjalin pertemanan kepada seluruh suporter tanpa ada permusuhan,” imbuhnya.
Tidak hanya itu, pihaknya juga sangat berharap langkah tersebut juga diikuti oleh seluruh elemen tim berjuluk Laksar Sape Kerrab, khususnya suporter Madura Bersatu. “Kepada seluruh suporter Madura Bersatu, kami secara pribadi sudah menyelesaikan kasus ini dan langsung bertemu dengan pelaku,” jelasnya.
“Jadi tidak perlu ada dendam lagi kepada semua elemen yang terlibat, tetap menjaga persaudaraan dan selalu menjalin silaturrahim. Jika ada masalah selesaikan dengan duduk bersama dan tak perlu menggunakan kekerasaan,” sambung pria yang akrab disapa Alif.
Pihaknya sangat berharap peristiwa tersebut tidak kembali terjadi di kancah sepakbola nasional. “Kami berharap kejadian seperti ini menjadi yang terakhir, karena sejatinya sepakbola itu hiburan bersama dan ajang silaturrahim dengan suporter lainnya. Salam damai untuk semuanya,” pungkasnya. [pin/kun]






