Mojokerto (beritajatim.com) – Mubin Supanji (35) warga Dusun Manyarsari, Desa Gunungsari, Kecamatan Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto ini sukses mengolah limbah kayu palet menjadi kerajinan bernilai jual tinggi. Bersama sang istri, Yunia Vivi Ayu Lestari (27), usaha yang digeluti sejak 2019 ini sudah menjelajah hampir semua kota di Indonesia.
Berawal dari melihat Youtube, mantan karyawan pabrik kertas ini menggeluti usaha kerajinan berbahan kayu jati Belanda di rumahnya. Dengan tangan kreatifnya, limbah palet tersebut disulap menjadi berbagai kerajinan. Mulai dari rak dinding, ambalan ukir, nomor rumah, huruf dan angka kayu, serta sejumlah hiasan dinding lainnya.
“Awalnya lihat youtube orang luar tapi waktu itu masih kerja di pabrik. Waktu itu masih Covid-19, mikir buat usaha apa yang sekiranya tidak memerlukan tempat banyak terus muncul ide buat usaha ini. Pertama kali dapat orderan langsung dari Merauke. Iya awalnya iseng buat contoh-contohnya saja,” ungkapnya, Sabtu (3/2/2024).
Kerajinan-kerajinan tersebut kemudian diposting di media sosial (medsos) Facebook (FB). Dari hasil postingan tersebut ada pesanan dari Merauke sehingga dari ia memasarkan melalui online. Semua pesanan dikerjakan bersama sang istri. Pasangan muda ini berkolaborasi menghasilkan sejumlah kerajinan yang lagi naik daun.
“Dari limbah palet, ambil dari daerah Sidoarjo. Biasanya satu pickup sekali ambil. Ada dekorasi rumah, jam dinding, nama ruangan, hiasan meja, hexagonal, kaligrafi. Saya kerjakan sama istri. Saya yang mengerjakan pemotongan awal sama finishing. Istri bagian ngukirnya. Kalau pesanan benar-benar banyak minta bantuan sampai dua orang,” katanya.
Tak hanya konsumen lokal Mojokerto, ia juga memenuhi pesanan konsumen dari luar kota hingga luar pulau. Dari berbagai kerajinan tersebut, hiasan dinding rak hexagonal masih cukup mendominasi. Selain bisa menjadi tempat bunga, foto, dan miniatur hiasan rumah, juga bisa jadi rak bumbu. Tak hanya itu, logo, huruf kayu dan dekorasi juga banyak peminat.
“Tidak pernah (kesulitan bahan baku), kalau mau habis langsung telepon dan dikirim. Penjualan paling banyak online, di Jawa Timur sudah menyeluruh. Kalau sekitar Jawa Timur, paling sering Bali dan Mataram, NTT. Paling murah angka dan huruf, satu kata Rp5.000 sampai Rp 100 ribu. Kalau daun monster ukiran juga ada, harganya Rp25 ribu, kalau paling mahal tergantung dari pesanan,” ujarnya.
Kerajinan yang dihasilkan juga tak monoton, sambil berjalan, ia terus update dan mengikuti tren pasar dengan berselancar di medsos. Seperti, Instagram (IG), TikTok, dan FB. Seperti saat masyarakat banyak yang menggandrungi furnitur meja dan segala asesoris di kafe. Konsumen juga bisa pesan sesuai keinginan konsumen.
“Konsumen bisa request, harga menyesuaikan. Bahan dasarnya Jati Belanda. Kayu bekas palet, jadi tidak terlalu dipilih-pilih, yang penting masih terlihat bagus karena seratnya bagus. Ada yang dibakar, ada yang tidak sesuai pesanan. Omzet, rata-rata sehari bersih di Rp100 ribu,” tegas ayah dari Miscal Ataga (1,5 tahun) ini.
Salah satu pembeli, mengatakan, ia sengaja datang ke tempat Mubin untuk mencari ornamen. “Dari Surabaya sengaja datang ke sini untuk mencari ornamen-ornamen untuk mengisi rumah dan kantor. Saya waktu itu lihat di IG, saya tertarik dan ke sini sambil jalan-jalan. Siapa tahu cocok bisa langsung pesan,” tuturnya.
Warga Surabaya ini mengaku tertarik dengan kerajinan yang dihasilkan Mubin Supanji bersama sang istrinya tersebut. Di tempat Mubin, ia menilai bisa pesan sesuai keinginan konsumen. Jika ingin finishing yang bagus maka dibuat dengan system dibakar sehingga menghasilkan warna yang bagus.
“Desainnya bagus dan bisa atensi kita. Jadi finisingnya kita minta yang perfec, bisa di reguest. Buat rumah sendiri dan kolega-kolega jika ingin pesan bisa saya sampaikan untuk datang ke sini langsung sehingga bisa pesan sendiri sesuai permintaan mereka,” pungkasnya. [tin/beq]







