Jember (beritajatin.com) – Mundurnya Mahfud MD dari posisi Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan bisa menambah daya ungkit elektoral, namun relatif tidak terlalu signifikan.
“Daya ungkit elektoral dari momentum undur diri Mahfud masih harus diuji untuk menguasai ‘the real battle ground’, terutama di Jawa Timur dan Jawa Tengah,” kata Muhammad Iqbal, Dosen Ilmu Komunikasi Politik Universitas Jember, Kabupaten Jember, Jawa Timur; Jumat (2/2/2024).
Mahfud MD mengundurkan diri dari kabinet dengan alasan menghindari konflik kepentingan dan intervensi politik. Dia telah menemui Presiden Joko Widodo di Istana untuk menyerahkan surat pengunduran diri dari Kabinet Indonesia Maju.
Mahfud berharap pengunduran diri ini bisa menjadi jaminan moral dan intelektual agar Pilpres berjalan adil dan jujur. Selain itu, Mahfud menyebut, nilai independensi selama proses pemilihan yang berlangsung pada 14 Februari dan proses setelahnya sangat penting.
Menurut Iqbal, ‘Mahfud Effect’ relatif baru untuk menambal sulam kantung suara Ganjar Pranowo-Mahfud MD yang telanjur berlubang digerus massa pendukung Jokowi dan Gibran, terutama di basis Jatim dan Jateng.
Dampak berupa gelombang simpati baru bisa terasa jika pengunduran diri Mahfud dilakukan sejak satu bulan lalu. “Tapi kalau saat ini, Ganjar-Mahfud harus ekstra keras untuk mengglorifikasi momentum pengunduran diri dengan Pilpres yang menyisakan waktu dua pekan,” kata Iqbal.
Ganjar-Mahfud mendapar dua tantangan berat. Pertama, Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming yang menurut Iqbal, secara langsung atau tidak langsung, memperoleh dukungan massif dan sistematis dari kekuasaan pemerintahan Jokowi.
“Kedua, pasangan Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar yang makin melesat meraih banyak simpati dari berbagai lapisan masyarakat pemilih dengan tren naiknya gelombang keinginan untuk perubahan,” kata Iqbal. [wir/beq]






